makna puisi deru campur debu

DeruCampur Debu pertama diterbitkan di tahun kematian Chairil Anwar pada tahun 1949. Kemudian puisi-puisi ini diterbitkan kembali dan dilengkapi dengan ilustrasi oleh Oesman Effendi tahun 1958. Kulit di sebelah merupakan edisi 1958 Chairil Anwar Kawanku dan Aku Sudah larut sekali. Hilang tenggelam segala makna. Dan gerak tak punya arti. Keyword: Metafora, Bentuk, Makna, dan Deru Campur Debu karya Chairil Anwar. Abstrak Puisi lama karya Chairil Anwar sangat kaya akan kiasan-kiasan tajam dan menikam. Diantara gaya khasnya dalam berpuisi adalah menggunakan warna-warna kuning, hijau, lembayung, dan sebagainya yang merupakan representasi dari sikap hidup, gagasan serta perbuatan yang selalu muncul dalam sajak-sajaknya. PENGGUNAANBAHASA FIGURATIF DALAM KUMPULAN PUISI DERU CAMPUR DEBU KARYA CHAIRIL ANWAR Ernie Sutriana, Sesilia Seli, Henny Sanulita Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Untan, Pontianak e-mail : erniesutriana@yaho Allegori tidak terdapat dalam kumpulan puisi DCD. 2) Makna bahasa figuratif terdiri dari ikon, indeks, dan simbol. 3 MAKNAPUISI SIA-SIA KARYA CHAIRIL ANWAR . Sia-Sia (Versi Deru Campur Debu) Penghabisan kali itu kau datang. membawa karangan kembang. Mawar merah dan melati putih: darah dan suci. Kau tebarkan depanku. serta pandang yang memastikan: Untukmu. Sudah itu kita sama termangu. Saling bertanya: Apakah ini? Cinta? Keduanya tak mengerti. Sehari itu kita bersama. Site De Rencontre Gratuit Dans Le 62. KAJIAN HEURISTIK DAN HERMENEUTIK TERHADAP KUMPULAN PUISI DERU CAMPUR DEBU KARYA CHAIRIL ANWAR Andina Muchti Universitas Bina Darma, Jl. Ahmad Yani No. 12 Plaju Palembang E-mail [email protected] Abstract All of the literature studies are related to the activity of interpretation. One of literature types that can be interpreted is poetry. To interpret a poem can involve the role of heuristics and hermeneutics concept. This study used several poems contained in the book of poetry Deru Campur Debu by Chairil Anwar. The problems of this study, namely 1 How do heuristic and hermeneutic reading on the poem of Chairil Anwar, and 2 What are the meaning of language and literature contained in the poem of Chairil Anwar. Heuristic and hermeneutic readings are the method to analyze literary works by using semiotic approach. Semiotics is a term that refers to the same thing that is the sign science. The relationship between signifier and signified included, icons, indices, and symbols. The results of this study are as follows 1. In the sixth poems of Chairil Anwar always brings the themes of freedom, rebellion and adventure that are the expression of Chairil's characteristic himself. 2. The unpleasant experience of dating with Hayati made him upset and dreaming of a lover who was very different from Hayati. therefore, Chairil express it with harsh words to describe the regret. Keywords heuristic, hermeneutic, Deru Campur Debu 1. PENDAHULUAN massa, majalah dan surat kabar yang sangat Karya sastra merupakan refleksi dari dekat dan akrab dengan masyarakat. berbagai fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Keberadaannya merupakan Waluyo 197828 mengatakan, karya sastra puisi mempunyai struktur yang suatu hal yang penting dan sudah menjadi berbeda dengan keseharian dalam masyarakat, baik itu Penciptaannya menggunakan prinsip-prinsip sebagai kebutuhan maupun hanya sekadar tertentu, seperti prinsip pemadatan atau hiburan. Terdapat berbagai bentuk karya pengonsentrasian bentuk dan makna. Untuk sastra, mulai dari prosa, drama, dan puisi. itu, Aminuddin 2002110 berpendapat, Puisi termasuk salah satu jenis karya sastra dalam yang tidak hanya ditempatkan secara khusus terutama puisi, kesulitan yang biasa muncul tetapi dapat pula dijumpai dalam media adalah dalam upaya memahami maknanya. upaya bentuk memahami teks prosa. sastra, Semua kajian sastra dengan suatu aktivitas, berkaitan yaitu aktivitas Berhasil penafsir atau tidaknya seorang mencapai taraf interpretasi yang interpretasi penafsiran. Kegiatan apresiasi optimal, sangat bergantung pada kecermatan sastra pada awal dan akhirnya, bersangkutan dan ketajaman interpreter itu sendiri. Selain dengan itu, dibutuhkan metode pemahaman yang karya diinterpreatasi sastra dan yang harus dimaknai. Semua memadai; metode pemahaman yang kegiatan kajian sastra, terutama dalam mendukung merupakan satu syarat yang prosesnya pasti melibatkan peranan konsep harus dimiliki interpreter. Dari beberapa heuristik dan hermeneutik. Oleh karena itu, alternatif yang ditawarkan para ahli sastra heuristik dan hermeneutik menjadi hal yang dalam memahami karya sastra, metode tidak mungkin diabaikan. pemahaman heuristik dan hermeneutik dapat Pradopo 2005124-129 menyatakan salah satu konvensi ketidaklangsungan sastra ekspresi tentang menurut dipandang sebagai metode yang paling memadai. Dalam analisis puisi menggunakan Riffaterre yang dijabarkan dengan metode pembacaan pembacaan hermeneutik. penelitian ini menggunakan beberapa puisi Pembacaan heuristik adalah pembacaan yang terdapat dalam buku kumpulan puisi puisi berdasar pada konvensi bahasanya, Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar. heuristik dan heuristik dan hermeneutik, sedangkan pembacaan hermeneutik adalah Sajak-sajak karya Chairil Anwar pembacaan puisi berdasar pada konvensi dipilih sebagai objek pembacaan heuristik sastranya. dan hermeneutik karena sajak-sajaknya perlu Dalam hubungannya, tahap pertama merupakan ekspresi diri dan mencerminkan disadari kehidupan penulisnyaa. bahwa interpretasi dan pemaknaan tidak diarahkan pada suatu Berdasarkan latar belakang yang proses yang hanya sampai pada permukaan telah dikemukakan di atas, permasalahan karya sastra, tetapi juga yang mampu penelitian ini dapat dirumuskan sebagai "sampai berikut. di kedalaman makna" yang 1 Bagaimanakah pembacaan terkandung di dalamnya. Untuk itu, seorang heuristik dan hermeneutik pada puisi karya penafsir memiliki Chairil Anwar, dan 2 Apa saja makna wawasan bahasa, sastra, dan budaya yang bahasa dan makna sastra yang terkandung cukup luas dan mendalam. dalam puisi karya Chairil Anwar. seyogiannya harus Teeuw 199759 mengemukakan definisi tentang sastra, yaitu suatu karya penanda signifier/signifiant dan petanda signified/signifié. yang menghendaki kreativitas. Karya sastra Pradopo 1993121 juga dimaksud dengan itu karya yang bersifat imajinatif, yaitu menjelaskan, bahwa karya sastra itu terjadi akibat penanda penganganan dan hasil penganganan itu merupakan bentuk tanda sedangkan petanda adalah penemuan-penemuan baru, kemudian adalah yang ditandai, yang merupakan arti penemuan baru itu disusun ke dalam suatu tanda. Hal itu dapat dicontohkan sebagai sistem dengan kekuatan imajinasi hingga berikut satuan bunyi ibu’ merupakan tanda terciptalah yang menandai arti orang yang melahirkan suatu dunia baru yang adalah yang menandai, yang kita’. Jadi, satuan bunyi ibu’ adalah sebelumnya belum ada. Puisi yang merupakan sebuah bentuk penanda sedangkan arti dari satuan bunyi karya sastra yang paling tua. Seorang ibu’, yaitu orang yang melahirkan kita penyair telah mengonsentrasikan segala adalah petanda. kekuatan bahasa dan gagasannya untuk menghasilkan sebuah puisi Waluyo 19873. Hubungan petanda ada antara tiga penanda macam, dan yaitu a. Ikonmerupakan tanda yang menunjukkan Pembacaan heuristik dan adanya hubungan yang bersifat alamiah hermeneutik merupakan salah satu metode antara petanda dan penandanya. Hubungan untuk menganalisis karya sastra dalam itu adalah hubungan persamaan, misalnya pendekatan semiotik. gambar kuda sebagai penanda yang Semiotik, semiotika dan semiologi menandai kuda petanda sebagai artinya; adalah satu istilah yang merujuk pada satu potret menandai sesuatu atau seseorang yang hal yang sama, yaitu ilmu mengenai tanda. dipotret; gambar pohon menandai pohon, b. Pradopo lndeks, yaitu tanda yang menunjukkan 2005119 menyatakan, yang dimaksud dengan tanda adalah fenomena hubungan sosial/masyarakat dan kebudayaan. penanda dan petandanya, misalnya asap Berbicara mengenai tanda bahasa, Saussure dalam Pradopo 2005119 menandai kausal api; sebab-akibat alat penanda antara angin menunjukkan arah angin dan sebagainya,c. menyebutkan ada dua aspek penting yang Simbol, yaitutanda yang menunjukkan menjadi bagian dari tanda bahasa itu, yaitu bahwa tidak ada hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya, hubungannya dalam pengertian yang sesungguhnya dari bersifat arbritrer semaumaunya. Arti itu maksud ditentukan menghasilkan pemahaman makna secara oleh konvensi Pradopo 2005120. bahasa. Kerja heuristik harfiah, makna tersurat, actual meaning Untuk dapat memberikan makna Nurgiyantoro, 2007 33. puisi secara semiotik, pertama kali dapat Hermeneutik adalah proses dilakukan dengan pembacaan heuristik dan penguraian yang berangkat dari isi dan Hermeneutik. makna Heuristik merupakan langkah untuk menemukan makna melalui yang terlihat tersembunyi. Objek ke arah makna interpretasi dalam pengkajian pengertian yang luas, dapat berupa simbol struktur bahasa dengan mengintrepetasikan dalam mimpi atau bahkan mitos-mitos dari teks sastra secara referensial lewat tanda- simbol tanda linguistik. Langkah ini berasumsi Palmer 200348. dalam masyarakat atau sastra bahwa bahasa bersifat referensial, artinya Riffaterre dalam Pradopo 200597 bahasa harus dihubungkan dengan hal-hal mengemukakan bahwa dalam pembacaan nyata. hermeneutik, Pembacaan heuristik adalah sajak dibaca berdasarkan konvensi-konvensi sastra menurut sistem pembacaan berdasarkan struktur bahasanya. semiotik. Untuk memperjelas arti, bila perlu, pembaca memberikan memberi sisipan kata atau sinonim kata yang konvensi diletakkan dalam tanda kurung. Begitu juga, deskripsi puisi yang disebabkan oleh struktur kalimatnya disesuaikan dengan penggantian arti, penyimpangan arti, dan kalimat baku berdasarkan tata bahasa penciptaan arti. normatif; a. atau bila perlu susunan Konvensi makna makna itu yang di antaranya ketidaklangsungan ucapan Penggantian arti dalam karya sastra kalimatnya dibalik untuk memperjelas arti disebabkan oleh bahasa kiasan, antara Pradopo 2005136. lain Menurut Riffaterre dalam Wellek metafora, perbandingan, dan Warren, 1989 148 analisis secara sinekdoki, heuristik adalah analisis pemberian makna alegori. berdasarkan struktur konvensional, artinya bahasa bahasa secara dianalisis metonimi, b. simile personifikasi, perbandingan epos dan Riffaterre dalam Pradopo 2005125 mengemukakan, penyimpangan arti disebabkan oleh tiga hal, yaitu 2. METODOLOGI PENELITIAN ambiguitas, kontradiksi dan nonsense. c. Penciptaan Arti Riffaterre mengatakan Metode penelitian ini membahas terjadi penciptaan arti bila ruang teks mengenai pendekatan penelitian, data dan spasi teks berlaku sebagai prinsip sumber data, teknik penyediaan data serta pengorganisasian teknik analisis data. untuk membuat hal-hal Pendekatan yang dilakukan dalam sesungguhnya penelitian ini adalah pendekatan deskriptif secara linguistik tidak ada artinya, kualitatif dan pendekatan semiotik. Subroto misalnya simitri keseimbangan berupa 199270 mengutarakan bahwa penelitian kesejajaran arti antara baris-baris dalam kualitatif itu bersifat deskriptif. Peneliti bait, rima pengulangan bunyi dalam mencatat dengan teliti dan cermat data yang puisi untuk membentuk musikalitas berwujud kata-kata, kalimat dan wacana. atau orkestrasi Waluyo 198790 Pendekatan semiotik adalah pendekatan tanda-tanda keluar ketatabahasaan dari yang Palmer 2003 14-16 menyebutkan penelitian yang menggunakan metode- bahwa akar kata hermeneutik berasal dari metode semiotik, dalam hal ini adalah istilah Yunani dari kata kerja hermeneuein, pembacaan heuristik dan hermeneutik. yang berarti “menafsirkan”, dan kata benda hermeneia, “interpretasi”. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah kumpulan puisi Deru Hermeneutik merupakan pembacaan Campur Debu karya Chairil Anwar. bolak-balik melalui teks dari awal hingga akhir. Tahap pembacaan ini merupakan Penerapan Heuristik dan Hermeneutik interpretasi Heuristik retroaktif yang melibatkan banyak kode di Dalam menerapkan luar bahasa dan menggabungkannya secara menghiraukan integratif dapat kesempurnaan teks atau kondisi gramatikal. guna Sehingga membongkar tahap kedua sampai secara yang bersifat pembaca struktural Heuristik kelengkapan apresiator dapat tidak atau menambah mengungkapkan makna singificance dalam ataupun mengurangi bentuk gramatikal yang sistem tertinggi, yakni makna keseluruhan ada teks sebagai sistem tanda. terkandung dalam teks karya sastra itu guna sendiri. menemukan makna yang sebagai berikut si aku memberi harapan kepada Hermeneutik Langkah-langkah penerapan Hermeneutik gadis si aku bila ingin kembali boleh saja. Si aku adalah dengan mengkaji makna melalui menerima sepenuh hati bila gadis itu mau pembacaan yang berulang-ulang dengan kembali lagi pada kehidupan si aku. Si aku tidak meramalkan makna yang terkandung secara tersirat pada karya sastra itu sendiri dengan menggunakan segenap pengetahuan yang dimiliki. mencari gadis lain sebagai pendamping hidupnya karena masih menunggu kepulangan kekasihnya. Si aku masih sendiri tidak akan mencari yang lain dan tetap menunggu walaupun sudah mengetahui bahwa gadis yang dicintainya sudah 3. HASIL Hasil tidak perawan lagi atau sudah selingkuh dengan Analisis pada Puisi “Penerimaan” karya Chairil Anwar PENERIMAAN laki-laki lain. Itu digambarkan dengan kalimat” Kutahu kau bukan yang dulu lagi bak kembang sari sudah terbagi”. ini menggunakan metafora- Kalau kau mau kuterima kau kembali metafora yang sangat indah dangan Dengan sepenuh hati menggambarkan perempuan yang tidak perawan Aku masih tetap sendiri dengan kembang sari sudah terbagi. Si aku memberi harapan kepada gadis si Kutahu kau bukan yang dulu lagi aku bila ingin kembali tidak usah malu dan Bak kembang sari sudah terbagi harus mau menemui si aku. Tidak usah takut untuk menemui si aku. Si aku pun tetap Jangan tunduk! Tentang aku dengan menerima apapun yang sudah terjadi dan berani menerima dengan mutak jangan mendua lagi, bahkan bercermin pun si aku enggan berbagi. Kalau kau mau kuterima kembali Digambarkan dalam bait ke-5 yan berbunyi Untukku sendiri tapi “Sedangkan dengan cermin aku enggan berbagi”. Dalam kalimat ini menggunakan Sedang dengan cermin aku enggan citraan penglihatan berbagi. Deru Campur Debu,195936 Hasil Analisis pada Puisi ”Sajak Putih” Karya Chairil Anwar Dalam sajak”Penerimaan” karya Chairil Anwar merupakan ungkapan perasaan yang dirasakan oleh penyair. Puisi itu dapat dianalisis SAJAK PUTIH menggambarkan sesuatu yang indah dan Bersandar pada tari warna pelangi menarik . biasanya mawar itu berwarna Kau depanku bertudung sutra senja merah yang menggambarka cinta dan melati Di hitam matamu kembang mawar dan putih menggambarkan kesucian. Jadi dalam melati mata si gadis tampak cinta yang tulus, Harum rambutmu mengalun bergelut menarik, dan mengikat. Suasana pada saat senda itu bsangat menyenangkan, menarik,m penuh keindahan yang memduat si aku haru Sepi menyanyi, malam dalam mendoa dengan semua itu. tiba Dalam pertemuan ke dua insan itu Meriak muka air kolam jiwa sepi menyanyi, malam dalam doa tiba yang Dan dalam dadaku memerdu lagu menggambarka tidak ada percakapan dari Menarik menari seluruh aku keduanya. Mereka hanya dian tanpa ada sepatah kata yang diucapkan seperti hanya Hidup dari hidupku, pintu terbuka ketika waktu berdoa. Hanya kata hati yang Selama matamu bagiku menengadah berkata dan tidak keluar suara. Kesepian itu Selama kau darah mengalir dari luka mengakibatkan jiwa si aku bergerak seperti Antara kita Mati datang tidak hanya permukaan kolam yang terisa air yang membelah... beriak tertiup angin. Dalam keadaan diam Dalam puisi sajak putih dgamberkan tanpa kata itu, didalam dada si aku gdis ai aku pada suatu senja hari yang indah terdengar lagu ia duduk dihadapan si aku. Ia besandar yang yang merdu yang menggambarkan kegembiraan. Rasa pada saat itu ada warna pelangi yaitu langit kegembiraan digambarkan dengan senja yang indah penuh dengan macam- menari seluruh aku. itu macam warna. Gadis itu bertudun g sutra Hidup dari hidupku, pintu terbuka diwaktu haru sudah senja. Sedangkan menggambarkan bahwa si aku merasa rambut gadis itu yang harum ditiup angin hidupnya penuh dengan kemungkinan dan tampak seperti sedang bersenda gurau, dan ada jalan keluar serta masih ada harapan yna dalam mata gadis yang hitam kelihatan pasti bunga mawar dan melati yang mekar. kekasihnya masih menengadahkan mukanya Mawar ke si aku. Ini merupakan kiasan bahwa si dan melati yang mekar bisa diwujudkan selam gadis gadis masih mencintai s aku, mau Antara kita Mati datang tidak memandang kemuka si aku, bahkan juga membelah….. isyarat untuk mencium dario si aku. Bila diucapkan secara normatif, maka Keduanya masih bermesraan dan saling ekspresifitasnya hilang karena tidak padat mencintai. dan tidak berirama. “Pintu akan selalu Begitu juga hidup si aku penuh terbuka bagi hidup dan hidupku. Selama harapan selama si gadis masih hidup wajar, matamu menengadah bagiku. Selama darah dikiaskan dengan darahnya yang masih masih mengalir jika engkau terluka. Antara mengalir dan luka, sampai kematioan tiba kita sampai kematian datang kita tidak pun keduanya masih mencintai, dan tidak membelahberpisah. akan terpisahkan. Sajak merupakan kiasan pengertian abstrak dapat menjadi kongret suara hati si penyair, suara hati si aku. Putih karena digunakan citraan-citraan dan gerak mengiaskan yang digabung dengan metafora. ketulusa kejujuran, dsan keihklasan. Jadi sajak putih berarti suara hati si aku yang sangat tulus dan jujur. Rasa Dalam sayangnya sajak itu ini juga digambarkan dalam puisi Chairil Anwar untuk yang berjudul “Penerimaan”. Dalam puisi kegembiraan dan kebahagiaan di dalam itu digambarkan bahwa si aku masih bisa sajak ini adalah kata tari, warna pelangi, menerima si gadis yang telah berselingkuh sutra senja, memerdu l;agu, menari-neri, dengan orang lain. Si aku menerima dengan pintu terbuka. Jadi, sajak ini bersuasana rasa penuh keihklasan dari si gadis yang gembira. Namun biasanya sajak Chairil telah mau kembali kepelukannya. Terlalu Anwar bersuasana murung, suram dan sedih. sayangnya si aku, si aku menerima dengan Puisi tidak hanya menyampaikan informasi lapang saja, namun diperlukan kepadatan dan diperbuat oleh si gadis dengan orang lain. Tanda-tanda semiotik ekspresifitas, karena hanya inti pernyataan dada tentang apa yang telah Dalam puisi “Sajak Putih” banyak “Tari digunakan sajak warna pelangi” merupakan bahasa kiasan penyimpangan dari tata bahasa normatif seperti bahasa-bahasi kiasan. yang dikemukakan. Karena hal ini, maka personifikasi yang menggambarkan benda Hidup dari hidupku, pintu terbuka mati dapat digambarkan seolah-olah hidup. “ Selama matamu bagiku menengadah rambutmu mengalun bergelut sernda” juga Selama kau darah mengalir dari luka menggunakan bahasa kiasan personifikasi. Selain itu ada kesamaan dalam penggunaan selamat jalan citraan-citraan agar mempunyai makna yang dari pantai keempat, sedu kongret, penghabisan bisa terdekap serta menggunakan metafora- Dalam puisi ”Senja di Pelabuhan Kecil” metafora. diatas, Hasil Analisis Puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” Karya Chairil Anwar terasa bahwa penyair sedang dicengkeram perasaan sedih yang teramat dalam. Tetapi seperti pada puisi-puisi Chairil Anwar yang lain, kesedihan yang diungkapkan SENJA DI PELABUHAN KECIL tidak memberikan kesan cengeng atau sentimental. Dalam kesedihan yang amat dalam, penyair ini tetap tegar. Demikian pula pada Ini kali tidak ada yang mencari cinta puisinya diatas. Di dalamnya tak satu pun kata di antara gudang, rumah tua, pada ”sedih” diucapkannya, tetapi ia mampu berucap cerita tentang kesedihan yang dirasakannya. Pembaca tiang serta temali. Kapal, perahu dibawanya untuk turut erta melihat tepi laut tiada berlaut dengan gudang-gudang dan rumah-rumah yang menghembus diri dalam telah tua. Kapal dan perahu yang tertambat mempercaya mau berpaut disana. Hari menjelang malam disertai gerimis. Kelepak burung elang terdengar jauh. Gambaran Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang tentang pantai ini sudah bercerita tentang suatu yang muram, di sana seseorang berjalan seorang diri tanpa harapan, tanpa cinta, berjalan menyusur semenanjung. Satu ciri khas puisi-puisi Chairil Anwar menemu bujuk pangkal akanan. adalah kekuatan yang ada pada pilihan kata- Tidak bergerak katanya. Seperti juga pada puisi diatas, setiap dan kini tanah dan air tidur hilang kata mampu menimbulkan imajinasi yang kuat, ombak. dan membangkitkan kesan yang berbeda-beda bagi penikmatnya. Pada puisi diatas sang Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian penyair berhasil menghidupkan suasana, dengan gambaran yang hidup, ini disebabkan bahasa yang dipakainya mengandung suatu kekuatan, tenaga, sehingga memancarakan rasa haru yang dalam. Inilah kehebatan Chairil Anwar, dengan kata-kata yang biasa mampu menghidupkan itu gerimas yang menambah rasa kesedihan dari imajinasi kita. Judul puisi tersebut, telah si aku. membawa kita pada suatu situasi yang khusus. Kata senja berkonotasi pada suasana yang remang pada pergantian petang dan malam, Hasil Analisis Puisi “Cintaku Jauh di Pulau” Karya Chairil Anwar tanpa hiruk pikuk orang bekerja. Pada bagian lain, gerimis mempercepat CINTAKU JAUH DI PULAU kelam, kata kelam sengaja dipilihnya, karena terasa lebih indah kata gelap walaupun dan sama dalam daripada artinya. Setelah kalimat itu ditulisnya, ada juga kelepak elang Cintaku jauh di pulau, gadis manis, sekarang iseng sendiri menyinggung muram, yang berbicara tentang kemuraman sang penyair saat itu. Untuk Perahu melancar, bulan memancar, mengungkapkan bahwa hari-hari telah berlalu di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar. dan angin membantu, laut terang, tapi terasa berganti dengan masa mendatang, diucapkan dengan kata-kata penuh daya desir aku tidak 'kan sampai padanya. hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Penggambaran malam yang semakin gelap dan air laut yang tenang, disajikan dengan kata-kata yang sarat akan makna, yakni dan kini tanah dan air hilang ombak. Puisi Chairil Anwar ini hebat dalam pilihan kata, disertai Di air yang tenang, di angin mendayu, di perasaan penghabisan segala melaju Ajal bertahta, sambil berkata "Tujukan perahu ke pangkuanku saja," ritme yang aps dan permainan bunyi yang semakin menunjang keindahan puisi ini, yang Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh! dapat kita rasakan pada bunyi-bunyi akhir yang Perahu yang bersama 'kan merapuh! ada pada tiap larik. Mengapa Ajal memanggil dulu Di dalam puisi ini juga digambarkan Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?! rasa cinta namun dalam bentuk kesedihan yang mendalam yang dialami oleh si aku namun si Manisku jauh di pulau, aku tetap tegar menghadapinya. Si aku dalam kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri. keadaan muram , penuh kegelisahan, dan tidak sempurna dengan kehidupannya. Si aku sedang mancari cintanya yang hilang. Suasana pada saat Dalam kegiatan menganalisis arti, kita berusaha memberi makna pada bunyi, suku kata, kata, kelompok kata, kalimat, setelah ia meninggal, kekasihnya itupun bait, dan pada akhirnya makna seluruh puisi. akan mati juga dalam penantian yang sia-sia. Bait I “Cintaku jauh di pulau” Setelah kita menganalisis makna tiap bait, berarti. Kekasih tokoh aku gadis manis kita pun harus sampai pada makna lambang berada di suatu tempat yang jauh. “Gadis yang diemban oleh puisi tersebut. Kekasih manis sekarang iseng sendiri” artinya sang tokoh aku adalah kiasan dari cita-cita si aku kekasih tersebut adalah seorang gadis yang yang sukar dicapai. Untuk meraihnya si aku manis yang menghabiskan waktu sendirian harus iseng tanpa kehadiran tohoh aku. melambangkan mengarungi lautan perjuangan. yang Sayang, Pada bait II, si tokoh aku menempuh usahanya tidak berhasil karena kematian perjalanan jauh dengan perahu karena ingin telah menjemputnya sebelum ia meraih cita- menjumpai citanya. atau menemui kekasihnya. Ketika itu cuaca sangat bagus dan malam Dalam puisi tersebut terasa perasaan- ketika bulan bersinar, namun hati si aku perasaan si aku senang, gelisah, kecewa, merasa gundah karena rasanya ia tak akan dan putus asa. Kecuali itu ada unsur sampai pada kekasihnya. metafisis yang menyebabkan pembaca Bait III menceritakan perasaan si aku berkontemplasi. Dalam puisi di atas, unsur yang semakin sedih karena walaupun air metafisis tersebut berupa ketragisan hidup terang, pada manusia, yaitu meskipun segala usaha telah perasaannya ajal telah memanggilnya Ajal dilakukan disertai sarana yang cukup, bertahta sambil berkata “Tujukan perahu bahkan segalanya berjalan lancar, namun ke pangkuanku saja”. manusia seringkali tak dapat mencapai apa angin mendayu, tetapi Bait IV menunjukkan si aku putus yang diidam-idamkannya karena maut telah asa. Demi menjumpai kekasihnya ia telah menghadang bertahun-tahun berlayar, bahkan perahu demikian, yang membawanya akan rusak, namun menggairahkan akan sia-sia belaka. ternyata mengakhiri kematian hidupnya menghadang terlebih lebih cita-cita dahulu. yang Dengan hebat dan dan Dalam puisi ini juga menggunakan dahulu citraan-citraan. Hal itu terdapat dalam sebelum ia bertemu dengan kekasihnya. “Perahu melancar, bulan memancar,”. Bait V merupakan kekhawatiran si Citraan yang digunakan adalah citraan tokoh aku tentang kekasihnya, bahwa penglihatan karena perahu melancar dan bulan memancar hanya bisa dilihat. Jadi citraannya adalah citraan penglihatan. Citraan visual digunakan dalam “Ajal bertakhta, sambil berkata "Tujukan perahu ke pangkuanku saja," .... Mengapa Ajal memanggil dulu … Hasil Analisis Puisi “Kesempurnaan” Karya Chairil Anwar KUSANGKA Kusangka cempaka kembang setangakai Teryata melur telah diseri....... Hatiku remuk mengenangka ini Wasangka dan was-was silih berganti. Kuharap cempaka baharu kembang Belum tahu sinar matahari....... Rupanya teratai patah kelopak Dihinggapi kumbang berpuluh kali. Kupohonkan cempaka Harum mula terserak....... Melati yang ada Pandai tergeletak....... Mimpiku seroja terapung di paya Teratai putih awan angkasa...... Rupanya mawar mengandung lumpur Kaca piring bunga renungan...... Igauanku subuh, impianku malam Kuntum cempaka putih bersih...... Kulihat kumbang keliling berlagu Kelopakmu terbuka menerima cembu. Kusangka hauri bertudung lingkup Bulu mata menyangga panah Asmara Rupanya merpati jangan dipetik Kalau dipetik menguku segera Buah Rindu, 195919 Sajak Chairil Anwar merupakan penyimpangan terhadap konsep estetik Amir Hamzah yang masih meneruskan konsep estetik sastra lama. Pandangan romantik Amir Hamzah ditentang dengan pendangan realistiknya. Sajak “Kusangaka” mennjukkan kesejajaran gagasan yang digambarkan dalam enam sajak tersebut. Amir Hamzah menggunakan ekspresi romantik secara metaforis-alegoris, membandingkan gadis dengan bunga. Pada bait terakhir dimetamorkan sebagai bidadari hauri dan merpati. Dari keenam bait tersebut disimpulkan bahwa si aku mencintai gadis yang disangka murni, tetapi ternyata sesungguhnya sudah tidak murni lagi. Sudah dijamah oleh pemuda lain/ suda tidak perawan lagi Rupanya teratai patah kelopak/Dihinggapi kumbang berpuluh kali’. Kulihat kumbang keliling berlagu/kelopakmu terbuka menerima cembu’. Hal itu menimbulkan kekeewaan dan menyebabkan hati si aku remuk. Wasangka dan was-was silih bergantibait 1. Dengan demikian, si aku tidak mau bersama gadis yang sudahtidak murni lagi, sebab akan terkena kuku “merpati” itu bait 7. Gadis yang masih murni disangka murni diumpamakan cempaka kembangbait 1, baharu kembang belum terkena sinar mataharibait 2, cempaka harumbait 3, seroja terapung di paya putih seperti awanbait 4, dan seperti bidadari hauri bertudung lingkup yang bulu matanya menambah panah asmarabait 6. Gambaran tersebut bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya yang sangat menyakitkan basi si aku dan sangat kecewa setelah mengetahui kisah yang sebenarnya. Gambaran gadis tersebut sudah tidak murni lagi diumpamakan melur telah diseribait 1, teratai patah kelopak dihingapi kumbang berpuluh kalibait 2, merpati yang pandai bergelakbait 3, mawar yang mengandung lumpurbait 4, dan merpati yang mengaku segerabait 6. Jadi yang menanggapi masalah tersebut si aku merasa kecewa karena pikiran romantik bahwa gadis yang dicintainya itu harus masih murni dan tetap murni, setia pada si aku, tidak boleh menerima cinta orang lain, namun kenyataan berlainan. Tidak sesuai dengan keinginan si aku. Sikap romantik digambarkan dengan bahasa yang indah, mengambil objek dari alam sebagai perumpamaan, sehingga seperti natural. Sebaliknya Chairil Anwar, dalam sajaknya itu menampilkan tampak yang lain dalam mendiskripsikan atau menanggapi gadis yang sudah tidak murni lagi. Sangat berlawanan dengan apa yang ditampilkan oleh Amir Hamzah. Ia berpandangan realistik, si aku au menerima kembali wanitakekasihnya, istrinya yang barang kali telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Si aku mau menerima kembali asal mau kembali kepada si aku tanpa da rasa curiga. Si aku masih sendiri, tidak mencari wanita lain sebagai pasangan hidupnya karena masih menunggu kembalinya wanita yang dicintainya itu. Si aku mengetahui bahwa gadis yang dicintainya sudah tidak murni lag, sudah seperti bunga yang sarinya terbagi, yaitu sudah dihinggapi kumbang lain. Wanita itu jika ingin mau diterima kembali harus berani bertemu dengan si aku dan jangan malu untuk menemui si aku. Digambarkan “Djangan tunduk! Tantang aku dengan berani”. Si aku pun tetap menerima dengan sepenuh hati walaupun wanita itu sudah tidak perawan lagi. Chairil Anwar membandingkan wanita dengan bungakembang. Wanita yang sudah tidak murni digambarkan sebagai bunga yang sarinya sudah terbag ibak kembang sari yang sudah terbagi. Ini hampir sama dengn perumpamaan yang dilakukan Amir Hamzah “Rupanya teratai patah kelopak/dihinggapi kumbang berpuluh kali dan kulihat kumbang keliling berlaga”. Sedangkan Chairil Anwar ”Kutau kau bukan yang dulu lagi/ bak kembang sari sudah terbagi”. Numun Chairil Anwar tetap menggunakan bahasa keseharian dalam pengungkapan dan menggunakan gaya eksresif yang padat. 4. KESIMPULAN Dalam memahami suatu karya sastra, kita bisa menggunakan metode pemahaman heuristik dan hermeneutik. Metode pemahaman heuristik merupakan langkah untuk menemukan pengkajian makna melalui bahasa dengan struktur mengintrepetasikan teks sastra secara referensial lewat tanda-tanda linguistik, sehingga menghasilkan pemahaman makna secara harfiah. Sedangkan metode pemahaman interpretasi merupakan Anwar, dapat disimpulkan hal-hal sebagai yang bersifat berikut 1. Dalam keenam puisinya Chairil hermeneutik tahap kedua retroaktif yang melibatkan banyak kode di Anwar luar bahasa dan menggabungkannya secara kebebasan, pemberontakan dan petualangan integratif sampai membongkar secara pembaca dapat struktural guna mengungkapkan makna singificance dalam sistem tertinggi, yakni makna keseluruhan teks sebagai sistem tanda. selalu menghadirkan tema-tema yang merupakan ekspresi dari sifat-sifat Chairil itu sendiri. 2. Pengalaman masa pacaran dengan Hayati yang tidak menyenangkan karena Hayati pergi dan selingkuh dengan pria lain membuatnya marah dan memimpikan seorang Sehingga kekasih yang sangat berbeda dari hayati. pembaca dapat memhami karya sastra secara Sehingga Chairil mengekspresikannya dengan menyeluruh dan mendalam. kata-kata Dari hasil pembacaan heuristik dan kasar untuk menggambarkan kekesalannya itu. hermeneutik kumpulan Puisi karya Chairil DAFTAR PUSTAKA Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. BandungSinar Baru Algensindo. Delatour, Y. dkk. 1991. Grammaire du Français. ParisHachette. Dubois, Jean dkk. 2001. Dictionnaire de Linguistique. ParisLarousse-Bordas. Husen, Ida Sundari. 2001. Mengenal Pengarang-Pengarang Prancis dari Abad ke Abad. JakartaGrasindo. Kardjo, Wing. 1975. Sajak-Sajak Modern Prancis dalam Dua Bahasa. JakartaPustaka Jaya. Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta Gramedia Pustaka Utama. Palmer, Richard E. 2003. Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi Diterjemahkan oleh Musnur Henry dan Damanhuri Muhammad. YogyakartaPustaka Pelajar Offset. Paz, Octavia. 2002. Puisi dan Esai Pradopo, Rachmat Djoko. 1976. Pengkajian Puisi. YogyakartaGadjah Mada University Press. ________ 1993. Prinsip Kritik Sastra. YogyakartaGadjah Mada University Press. _______ 2005. Beberapa Teori Sastra, Metode, Kritik dan Penerapannya. YogyakartaPustaka Pelajar. Subroto, Edi. 1992. Pengantor Metoda Peneltitan Linguistik Strukiural. SurakartaSebe1as Maret University Press. Sudjiman, Panuti & Aart Van Zoest. 1992. Serba-Serbi Semiotika. JakartaGramedia Pustaka Utama. Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. JakartaGramedia. Tirtawirya, Putu Arya. 1978. Aprestasi Puisi dan Prosa. JakaraNusa lndah. Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. SurakartaErlangga. The purpose of this study was to describe 1 the diction, 2 prosody, and 3 the use of stylistic collection of poems "Mixed roar of Dust" by Chairil this using qualitative methods that are this study were 1 structure, diction, figure of speech, prosody, stylistics and 2 the meaning or message contained in the poetry of Chairil Anwar. This research data is lines and verses that contain 1 the structure, diction, figure of speech, prosody, and style, as well as 2 the meaning and the message or thought that would be submitted by the poet. Data collection techniques are engineering documentation. Techniques and procedures analysis using three grooves data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that one characteristic of poetry Chairil Anwar is the powers that be in the choice of words. Every word he created capable of causing a strong imagination, and evoke a different impression, able to liven up the atmosphere, with vivid, so it emits a deep compassion for peniklmatnya. In addition, the strength in diction, characteristic lies in the poetry and literary. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Analisis Stilistika Kumpulan Puisi “Deru Campur Debu” SuskandiatiANALISIS STILISTIKA KUMPULAN PUISI”DERU CAMPUR DEBU” KARYA CHARIL ANWARSuskandiatiAlumni PascasarjanaUnisda LamonganAbstrak Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan 1 diksi, 2 persajakan, dan3 penggunaan gaya bahasa kumpulan puisi ”Deru Campur Debu” karya ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat ini adalah 1struktur, diksi, majas, persajakan, gaya bahasa dan 2 maknaatau pesan yang terkandung dalam puisi-puisi Chairil Anwar. Data penelitian iniadalah baris-baris dan bait-bait yang berisi 1 struktur, diksi, majas, persajakan, dangaya bahasa, serta 2makna dan pesan atau pikiran yang hendak disampaikan olehsang penyair. Teknik pengumpulan data ini adalah teknik dokumentasi. Teknik danprosedur analisis menggunakan tiga alur reduksi data, penyajian data, dan penarikansimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Satu ciri khas puisi Chairil Anwaradalah kekuatan yang ada pada pilihan kata-katanya. Setiap kata-kata yangdiciptakannya mampu menimbulkan imajinasi yang kuat, dan membangkitkan kesanyang berbeda-beda, mampu menghidupkan suasana, dengan gambaran yang hidup,sehingga memancarkan rasa haru yang dalam bagi peniklmatnya. Selain itu,kekuatannya pada diksi, ciri khas terletak pada persajakan dan gaya kunci diksi, persajakan, gaya The purpose of this study was to describe 1 the diction, 2 prosody, and 3the use of stylistic collection of poems "Mixed roar of Dust" by Chairil using qualitative methods that are this study were 1structure, diction, figure of speech, prosody, stylistics and 2 the meaning or messagecontained in the poetry of Chairil Anwar. This research data is lines and verses thatcontain 1 the structure, diction, figure of speech, prosody, and style, as well as 2 themeaning and the message or thought that would be submitted by the poet. Datacollection techniques are engineering documentation. Techniques and proceduresanalysis using three grooves data reduction, data presentation, and drawingconclusions. The results showed that one characteristic of poetry Chairil Anwar is thepowers that be in the choice of words. Every word he created capable of causing astrong imagination, and evoke a different impression, able to liven up the atmosphere,with vivid, so it emits a deep compassion for peniklmatnya. In addition, the strength indiction, characteristic lies in the poetry and diction, prosody, stylistics EDU-KATA, No. 2, Agustus 2017PENDAHULUANAda tiga bentuk karya sastra, yaituprosa, puisi, dan drama. Puisi adalahkarya sastra tertulis yang paling awalditulis oleh manusia. Puisi adalah karyasastra yang dipadatkan, dipersingkat dandiberi irama dengan bunyi yang padu danpemilihan kata –kata kias / imajinatifWaluyo, 2005 1. Puisi sebagai salahsatu jenis sastra merupakan pernyataansastra paling inti. Segala unsur senikesastrraan mengental dalam puisi. Olehkarena itu, dari dulu hingga sekarangmerupakan pernyataan seni paling baku..Puisi itu selain memberikan kenikmatanseni, juga memperkaya kehidupan batin. ,menghaluskan budi, bahkan sering jugamembangkitkan hidup yang menyala, danmempertinggi rasa ketuhanan dankeimanan. Pradopo, 2005v –vi.Puisi sebagai salah sebuah karyaseni sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya. Puisi dapat dikajiunsur-unsurnya, mengingat bahwa ituadalah struktur yang tersusun daribermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Dapat pula puisi dikajijenis-jenis atau ragam-ragamnya,mengingat bahwa banyak definisi danmakna puisi yang muncul dalamkhasanah dan dunia sastra. Pradopo2005 menyatakan bahwa puisimerupakan struktur yang kompleks, makauntuk memahaminya perlu di analisissehingga dapat diketahui bagian –bagianserta jalinannya secara nyata. Karyasastra itu tak hanya hanya merupakansatu sistem norma, melainkan terdiri daribeberapa strata atau lapis norma, yaitulapis nada atau suara dan lapis puisi, kata-kata , frasa, dankalimat , kalimat mengandung maknakonotatif Prosese mencari maknadalam puisi merupakan prosespergulatan terus menerus dan tersusun-susun. Dalam analisis bahasa puisi dikemukaan pendapat Jacobson, fungsipuitika dan prinsip fungsi-fungsi bahasa yangterpenting adalah fungsi puitika yangterkandung didalamnya pesanpengarang secara keseluruhan. Dalamkarya sastra, khususnya puisi pesanyang dominan memicu pengaranguntuk melakukan memilihan terhadapkata-kata yang paling tepat untukmewakili pesan-pesan tersebut. Pradopo2005 285 menyatakan bahwa bahasapuisi bersfat banyak tafsir yangdisebabkan oleh penggunaan metaforadan ambiguitas. Metafora pun bersifatambigu dan taksa. Hal ini disebabkankarena sifat puisi yang penyair mempunyai carauntuk menciptakan efek puitis, yaituefek yang membangkitkan perasaan,menarik perhatian, menimbulkantanggapan jelas dan dalam bentuk efek visual tipografi, susunan bait, persajakan,asonansi dan sebagainya maupun unsur-unsur ketatabahasaan termasuk gayabahasa. Tujuan utama gaya bahasaadalah menghadirkan aspek ini terjadi baik dalam kaitannyadengan penggunaan bahasa sebagaisistem model pertama, dalam ruanglingkup linguistik, maupun sebagaisistem model kedua, dalam ruanglingkup kreativitas sastra Wellek danWarren, dalam Ratna, 2005 67.Stilistika dalam puisi untukmemperkaya cara berpikir, carapemahaman, dan caraperolehan terhadapsubtansi kultural pada umumnya, tetapisebagai penekaan dan penjelasan, yangsecara keseluruhan disebut aspekekspresif. Makna yang dihasilkan punmungkin berbeda , bahkan bertentangandibandingkan dengan kata-katatertuli.Wellek dan Warren, dalamRatna, 2005151 Analisis Stilistika Kumpulan Puisi “Deru Campur Debu” SuskandiatiAnalisis intrinsik saja kurangmemadai untukn mencpai interpretasiatau pemahaman karya sastra khususnyapuisi. Dibutuhkan analisis ekstrinsikuntuk mengetahui aspek- aspek yang adadiluarnya, misalnya kapan ditulis, aliranyang mempengaruhinya, ideologipenulisnya, dan sebagainya. Dalam sastrahermeneutika jelas berhubungan menunjukkan ciri subjektivitasnya,sastra menggunakan gaya bahasa. Padakarya puisi-puisi Chairil Anwardidapatkan penggunaan gaya bahasa yangdominan dan membangkitkan semangatmaupun semata-mata inginmengungkapkan aspek keindahanbahasanya. Hal ini tercermin dengan kuatmisal nya dalam salah satu judulpuisinya, ”Aku”. Popularitas Chairilmembawanya kepuncak urutan penyairbesar indonesia....sehingga dalam usianyayang sangat muda, Chairil menjadiinspirasi, mitos bagi kreativitas sastraselanjutnya. Hal inilah yangmenyebabkan penulis tesis tertarik untukmembahasnya. Belum ada karya sastrayang diresepsi demikian intens selainhasil karya Chairil. Cara pengungkapansecara keseluruhan, kekhasannya dalampemilihan kata-kata dianggap sebagai ciriutama keberhasilan penelitian dapatdikemukakan sebagai berikut 1mendeskripsikan diksi 2mendeskripsikan persajakan dan 3mendeskripsikan penggunaan gayabahasa kumpulan puisi ”Deru CampurDebu” karya Chairil Anwar. Gaya yangdipilih seorang pengarang, biasanyaberbeda dengan pengarang-pengarangyang lain. Terkait dengan pemikirandemikian, maka Thoma dalam WilfriedNoth mengumgkapkan denga tegasbahwa ”style is man”. Gaya adalahmanusia. L. Spitzer mamandang stylesebagai suatu ungkapa yang khas analisis yang rinci terhadap motifdan pilihan kata terhadap sebuah karyasastra, maka dapat dilacak pula visi batinseorang pengarang dalammengungkapkannya. Dalam kaitan antarastyle dan pengarang inilah yangmelahirkann perbedaan style baik yangbersifat objektif maupun subjektifsebagaimana yang iungkapkan ReneWellek dan Austin Warren mempertimbangkandefinisi gaya bahasa sebagai pemakaiangaya bahasa di satu pihak, stilistikasebagai ilmu pengetahuan mengenai gayabahasa dipihak lain, maka sumberpenelitiannya adalah semua jeniskomunikasi yang menggunakan bahasa,baik lisan maupun tulisan. Jadi meliputibaik karya sastra dan karya seni padaumumnya, maupun bahasa penggunaan bahasa khasdalam karya sastra diakibatkan olehbeberapa hal, sebagai berikut 1 karyasastra mementingkan unsur keindahan,2 dalam menyampaikan pesan karyasastra menggunakan cara tak langsungseperti refleksi, proyeksi, manfestasi danrepresentasi dan 3 karya sastra adalahcurahan emosi, bukan PENELITIANPenelitian ini menggunakan metodekualitatif yang bersifat ini adalah 1struktur, diksi,majas, persajakan, gaya bahasa dan 2makna atau pesan yang terkandung dalampuisi-puisi Chairil Anwar. Data penelitianini adalah baris-baris dan bait-bait yangberisi 1 struktur, diksi, majas,persajakan, dan gaya bahasa, serta2makna dan pesan atau pikiran yanghendak disampaikan oleh sang pengumpulan data iniadalah teknik dokumentasi. Teknikdukumentasi adalah pemgumpulan datayang memanfaatkan sumber mendapatkan data, penelitimelakukan pembacaan secara intens dan EDU-KATA, No. 2, Agustus 2017berulang-ulang serta melakukanpencatatan dan pencuplikan terhadapobjek penelitian yang berupa dokumen,sebagai sumber data primerNasution,199652.Peneliti harus berusaha agarinstrumen yang digunakan dalampengambilan data adalah instrumen yangvalid dan meyakinkan. Bagian inimemfokuskan jenis instrumen danpenggunaannya dalam dalampengambilan data. Dalam penelitian inipeneliti berperan sebagai insrumenpengumpulan dan analisis instrumen yang dipakai yaituinstrumen non tes yang dengandokumen-dokumen. Pada teknik ini,peneliti memperoleh informasi data dariberbagai sumber tertulis atau dokumenbaik dokumen primer maupun dan prosedur analisis datamerupakan bagian penting dalam metodepenelitian. Menurut Faisal dalam Bungin2007 69 dalam analisis data hendaknyamenganalisis analisis interaktif. Artinya,reduksi data, paparan data, danpenarikan kesimpulan atau verifikasimerupakan satu kesatuan yang berprosestimbal balik. Senada dengan pemikiranFaisal, Miles dan Huberman menyatakanbahwa dalam sebuah analisis datakualitatif terdapat tiga alur kegiatan yangdilakukan secara bersamaan. Tiga alurtersebut adalah reduksi data, penyajiandata, dan penarikan kesimpulan 200716. Langkah pertama mereduksi data,yaitu suatu proses menyeleksi data yangtelah teridentifikasi agar mendapat datayang akurat. Peneliti mencermatidatayang telah terkumpul pada langkah inipeneliti sudah melakukan analisis tahapawal guna mendapatkan makna secaragaris besar dari data yang kedua penyajian ataupemaparan data mengorganisasi danmenyusun data yang telah teridentifikasidan terreduksi, singga data menjadisebuah informasi yang sistematis danmakna. Dalam penyajian data, penelitimenyusun metode, mengelompokkandata dalam sebuah matrik agar mudahmembaca dan Ketiga verifikasi ataupenarikan simpulan. Langkah inimerupakan langkah kelanjutaninterprestasi data secara cermat denganpola induktif dan deduktif yang telahdiawali pada tahap reduksi dan penyajidata. Verifikasi atau penarikan simpolanmerupakan langkah kerja yang mengarahpada penemuan makna akhir yangberkaitan dengan fokus penelitian yangtelah dirumuskan. Dalam tahap ini sudahmenunjukkan analisis stilistikakumpulan puisi ” Deru Campur Debu”karya Chairil Anwar merupakan seorangtokoh populer, sastrawan dan penyairterkenal indonesia hingga saat macam karyanya sangatmewarnai khasanah kesusasteraanindonesia dan mengilhami lahirnyasastrawan besar di indonesia generasiberikutnya. Kmpulan puisi sepertibertema perjuangan, politik serta cintatelah dihasilkannya, hingga ia dinobatkanoleh H. B. Jassin sebagai peloporangkatan’45 dan puisi modern Anwar merupakan anak tunggal,lahir di Medan, Sumatera Utrara, 26 juli1922. Ayahnya bernama Toeloes, mantanbupati Indragiri, Sumatera Barat. ChairilAnwar masuk sekolah Hollandsch-Inlandsche School HIS, sekolah dasaruntuk orang-orang pribumi masapenjajahan Belanda. Dia kemudianmeneruskan pendidikannya di MeerUitgebreid Lager Onderwijs MULO,sekolah menengah pertama HindiaBelanda, tetapi di keluar sebelum lulus. Analisis Stilistika Kumpulan Puisi “Deru Campur Debu” SuskandiatiDia mulai menullis sebagai seorangremaja tetapi tak satupun puisi usia sembilan sbelas trahun,setelah perceraian orang tuanya, ChairilAnwar pindah dengan ibunya ke Jakartadimana dia berkenalan dengan duniasastra. Meskipun pendidikannya takselesai, Chairil Anwar menguasai bahasaInggris, bahasa Belanda, dan bahasaJerman, dan dia mengisi jam-jamnyadengan membaca karya-karya pengaranginternasional ternama seperti Riner .Auden, Archibald MacLeish,H. Marsman, J. Slaurhoff, Edgar DuPerron. Penulis penulis ini sangatmempengaruhi tulisannya dan secaratidak langsung mempengaruhi tatanankesusasteraan puisi ”Deru CampurDebu” terdiri dari 27 puisi 1 Aku, 2Selamat Tinggal, 3 Do’a, 4 KepadaPeminta-minta, 5 Sajak Putih, 6 SebuahKamar, 7 Catetan Th. 1946, 8 CeritaBuat Dien Tamaela, 9 Tuti Artic, 10Senja di Pelabuhan Kecil, 11 CintakuJauh Di Pulau, 12 Kawanku dan Aku,13 Kepada Kawan, 14 Hampa, 15Orang Berdua, 16 Sia-sia, 17 Isa, 18Kesabaran, 19 Nocturno, 20 KepadaPelukis Affandi, 21 Buat Album DS, 22Penerimaan, 23 Surga, 24 KepadaPenyair Bohang, 25 Lagu Siul , 26Malam di Pegunungan, 27 Kabar sampai waktuku’Ku mau tak seorang ’kan merayuTidak juga kauTak perlu sedu sedan ituAku ini binatang jalangDari kumpulannya terbuangBiar peluru menembus kulitkuAku tetap meradang menerjangLuka dan bisa kubawa berlariBerlariHingga hilang pedih periDan aku akan lebih tidak perduliAku mau hidup seribu tahun lagiDeru Campur Debu, 1959 7Dalam sajak ini intensitaspernyataan dinyatakan dengan saranaretorika yang berupa hiperbola,dikombinasi dengan ulangan tautalogiserta diperkuat ulangan bunyi vokal a danu ulangan bunyi lain serta persajakanpersajakan akhir. Gaya tersebut disertaidengan ulangan bunyi i-i yang lebihmenambah intensitas Luka dan bisa kubawa berlariBerlariHingga hilang pedih peri........perduli........lagiDengan hiperbola tersebut penonjolanpribadi nampak semakin nyataSELAMAT TINGGALAku berkacaIni muka penuh lukaSiapa punya?Kudengar seru menderu-dalam hatiku? –Apa hanya angin lalu?Lagu lain pulaMenggelepar tengah malam butaAh.......!!Segala menebal, segala mengentalSegala tak kukenal.......!!Selamat tinggal..........!!Deru Campur Debu, 19599Satu-satunya padnan kata sampai’adalah tiba’. Padanan kata waktu’adalah saat’, hari’, jam’, masa’.Padanan kata yang paling dekat adalahsaat’ tetapi tidak bersajak dengan u’.Kesakilan karena tidak diakui olehkelompok lain dijadikan dia untuklebih keras memberontak terhadap EDU-KATA, No. 2, Agustus 2017nasib. Dia tidak memperdulikan padsorang lain. la beijuang dengankeyakinnannya sendiri. Justru karenakekuatan pemikirannyan itu is karya sastra tidak bersifatmutlak, tidak hams sama, baik dalamkaitannya dengan pengarang maupunpembaca..Puisi 'Aku' ini dianggapmengetengahkan terra peijuanganbangsa, khususnya cita - citakemerdekaan menjelang tahun 'aku'tidak hanya ditafsirkansebagai mewakili subyek tunggal dalamkaitannya dengan hubungan antaara laid-laki dan perempuan saja. Oleh karenaitulah, kata ganti pertama 'aku' dalamhubungan ini bukan menunjuk subyektunggal melainkan jamak, yaitu bangsaIndonesia itu sampai waktuku, dapatdiartikan bahwa nanti bila sudah sampaisaatnya, tercapainya kemerdekaan yangsusah lama dicita-citakan, maka tidakada pihak lain yang dapat campur tangandi dalamnya, balk para penjajah yangsudah berkuasa secara langsung , sepertiBelanda, lnggris, dan Jepang, maupunkolonialis lain yang ingin menguasaidalam bentuk lain seperti dominasiekonomi dan empat baris pertama didominasi oleh bunyi 'u' dan 'au', denganciri-ciri maut dan kematian, dalam duabans berikutnya yang dominan adalahbunyi 'ang' binatang, jalang, danberjuang, disusul dengan dua bansbenkut dengan bunyi kombinasi 'u' dan'ang' itu yang terkandung dalambans kel-5 dan ke-6 ini jelas sangatkhas, berani dan diri sebagai binatangbalk dalam kaitannya dengan prosesevolusi Charles Darwin, maupun sifat-sifatnya yang lahir kemudian, sebagaianimal symbolicwn menurut versiErnst Cassirer belum pernah dilakukansebeltmrnya. Metafora manusia sebagaibinatang dipertegas dengan gayahiperbola jalang' dan jugs 'terbuang',seperti seekor binatang di hutanbelantara. Kata 'dari' menunjuk asal-usul sehingga dapat diketahui darimaim subyek dilahirkan. Padagilirannya sifat-sifat inilah yangmenimbulkan individualisme. Pilihankata, balk secara semantis, maupunsebagai superordinat dan hiponim,antara kata 'binatang' dan 'jalang',maupun secara puitis sepertiequivalensi sebagaimana dikemukakanoleh Jacobson jelas merupakanketerampilan khusus yang tidak dimilikioleh setiap penulis. Chairil memilih'jalang', bukan 'garang', 'buas','liar', danseterusnya sebab semata-mata katajalang' yang dapat mewakili We si aku sudah lukadan kena 'bisa'. Bisa dapat berarti racunyang pea umumnya berasal daribinatang berbisa, seperti ular,kalajengkling, tetapi dapat jugs berartipenyakit lain sebagai akibet lukatesebut. Melalui gaya repetisi 'berlari' siaku masih berjuang terus tanpa berhentidan justru dengan berlari kemudian rasasakit menjadi berkurang bahkan hilangsama sekali. Persamaan bunyi dalam//Hingga hilang pedih peri //ditunjukkan melalui bunyi 'hing' dan 'hi''pe' dan 'pe'. Aku akhirnya justru 'lebihtidak peduli'.Bahkan si aku 'mau hidupseribu tahun lagi'. Seribu tahun jelasbukan dalam pengertiansesungguhnya,melainkan sebagai per unpamaan,hiperbola Ratna, 2006 360362.Dalam sajak ini intensitaspemyataan dinyatakan dengan saranretorika yang bempa hiperbola,dikombinasi dengan ulangantautalogi serta diperkuat ulanganbunyi vokal a dan u ulangan bunyi lain Analisis Stilistika Kumpulan Puisi “Deru Campur Debu” Suskandiatiserta persajakan persajakan akhir. Gayatersebut disertai dengan ulangan bunyi i-i yang lebih menambah intensitas Sajak "Aku" ini menimbulkanbanyak tafsir, bersifat ambigu, hal inidisebabkan okh ketaklangsungan ucapandengan care itu untuk menarikperhatian, untuk menimbulkan pemikiran,dan untuk memproyeksikan prinsipequivalensi dart proses pemilihan keproses kombinasi. Disini dipergunakanpenyimpangan arti distorting 'kalausampai waktuku' berarti 'sampai akumati'; 'tak perlu sedu sedan itu' dapatberarti 'tak ada gunannya kesedihan itu'.'Tidak juga kau' dapat berarti 'Tidak jugaengkau, anakku, istriku atau kekasihku'.Ambiguitas ant ini memperkaya arti ini juga disebabkan olehpergantian srti displacing, yaitu dalamsajak ini banyak dipergunakan bahasakiasan, disini menggunakan metafrra balkmetafora penuh atau implisit Metaforapenuh seperti 'Aku ini biunatang jalang'yang berarti si aku itu seperti binatangjalang yang betas lepas tidak terikatolehuntuk mendapatkan llama yang merdu,liris, menjadikan padal. Bila diucapkaseam biasa, berdasarkan kaidahtatabahasa, maka kepuitisannya danekspresivitasnya menjadi hilang. Sajakini hanya mengemukakan imimasalahnya. Dengan demikian, hubunganantar kalaimatnya bersifat implisit, tidakdinyatakan secara kata-kata dalamsajak ini adalah kata-kata adakata-kata yang, secara permukaan atausecara umum mengandung kiasan atausimbol. Hanya saja, seperti yangdikemukakan oleh Preminger dalamPradopo 2005 176, yaitu konvensiekstrapolasi simbolik mencari maknasimbolik dan konvensi makna, yaitu linkyang kosong scbagai sesuatu yang mulia,maka katakata tersebut mempunyaikemampuan untuk ditafsirkan sebagaikata-kata kiasan yang luas berarti melihat mukasendiri, dapat berarti lebih leas, yaitumelihat keadaan diri sendiri, masalah-masalah sendiri, kekuranganc atau penuh luka berarti keadaandin yang pcnuh kekurangan, kejelekan,kesalahan, bahkan seru menderu terjadiBlips, menghilangkan 'suara' menderudemi kepadatan untuk mendapatkanekspresivitas. 'Seru menderu' sudahmenyarankan suara, yang men pakancitra pendengaran yang memberi efekmengenkan, menakutkan, yaitu suaradalam bahasa merafora. Anginlalu’. lap lain’, tengah malambuts’merupakan kiasan metafora semua kata diatas merupakanmetafora implisit, dimana sang penyairmenggunakan imagery atau citraansehingga semuanya menjadi konkretdihadapan pembaca. Apa yang di dalamfkiran ndiwujudkan dalam citrapendengaran kudengar sera menderu.Hal yang sepele diberi citra perabean,tactile image angin lalu. Persoalandiberi citra pendengaran lagu lain dandiberi cita visual menggelepar tengahmalam. Jugs ada pembeian citra thermaldan visual segala menebal, segalamengental,...segala tak kukenal ...selamat tinggal Pradopo, 2005 176-178. Sajak ini merupakan melihat dirinya sendiri mukanya penuh luka,yaitu cacatcacat, keburukan-keburukan,atau kekurangan-kekurangan kebanyakan cacat itu yangsemula tidak disadari, tidak terlihat,setelah berkaca si aku sendiri terkejutdan menanyakan kepada dirinya mukasiapakah itu, benarkah mukanya sendiri EDU-KATA, No. 2, Agustus 2017yang penub cacat itu, benarkah mukanyapenuh cacat dan kejelekan suara yang menderu, suaragemuruh dalam dinnya, gemuruhpemikiran, angan-angan, cita-cita,harapan, dan sebagainya. Persoalan itupersoalannya sendirikah?, benarkah itusuara hatinya?. Dalam kegelapanhatinya yang penuh persoalan itu,terdengar pula persolan lain yangmendesak. Segala persoalan itubertumpuk menjadi konkret dan semuanya tak dikenal si aku,dalam pengertian si aku tak dapatmemecahkan persoalan danpermasalahan ituJuga 'penuh-seluruh', merupakanpilihan kata untuk agar lebih tampakekspresivitas penyair dalam panas suci berarti cahayaTuhan yang memancar yangpenuhkesucian menerangi hati manusiayang dalam lilin berarti tinggalsedikit, tinggal sedikit atau kecilmenerangiditampat yang dr negeri usingberarti kebingungan tak tahu arah, takada kawan sendirian, sebatang kara, taktahu apa yang harus berarti keharibaan,hadapan Tuhan 2. Analisis PersajakanBunyi sajak akhir 'u' yangberturut-turut Tuhanku - termangunamaMu sangat memperkuat efekketermanguam 'Biar susah sungguh'bersama dengan 'mengingat kau penuhseluruh', menjadi kesatuan irama yangkuat dan hris, make menjadi 'bentuk-remuk', akhiran 'k'berbunyi parau, serak, tidak merdu,dikombinaci asonansi 'u', Iebih nyatamenandaskan gambaran perasaan tidakenak, pahit, kacau, dan kebingungan'bentuk'-'remuk' 3. Analisis GayabahasaMetafora-metafora yang penuhambiguitas 'Kau penuh seluruh,cayaMu panes suci, tinggal kerdip lilindikelam sunyi, aku hilang bentuk-remuk, mengembara dinegeri acing, dipintuMu aku mengetuk, aku tidak bisaberpaling'.Doa ini dibuka dengan keragu-raguan, ketermanguan, antara percayadan tidak untuk menghadap sang penyair akhimya berdoajuga untuk Analisis Gaya BahasaHiperbola, yaitu padabaris Tapi jangantentang lagi aku / namti darahku jadibeku, Sudan terracar semua dimuka /Nanah meleleh dari muka, Bersuara tiapkau melangkah / Mengerang tiap akumemandang. Enumerasi/penjumlahan,yaitu penjumlahan rasa sakit, terutamatampak pada bait ketiga dan penyair merasa dikejar olehrasa dosa karena ada seorang "peminta-mints„ yang selalu memandangnya,yang selalu menatapnya. Sang penyairsadar akan dosanya kepada Dia. Sebabitu is merasa sangaat tersiksa, bahkandarahnya rasanya menjadi beku bilaselalu ditatap oleh si sang penyair meminta janganditentang lagi olehnya, supaya is tidakmati ketakutan. Sang penyair merasakanrasa dosanya itu begitu sang penyair minta kepadapeminta-minta itu jangan berceritatentang dosa-dosa manusia sangpenyair. Rasanya dosa sang penyair itusudah tercennin dalam muka si peminta-minta itu yang seperti kena cacar danbemanah, selalu meleleh, dan selaludiusap oleh si peminta-minta sambilbcrjalan. Seolah olah si peminta-mintaselalu mengingatkan rasa doss sangpenyair dimana pun dia berada. Rasadosa itu begitu hebatnya sehinggamengganggunya sampai ke mimpi sangpenyair. Tapi sang penyair berjanji akanselalu mengingat Tuhan, menyembah Analisis Stilistika Kumpulan Puisi “Deru Campur Debu” Suskandiaticlan menyerahkan segala dosanyakepada Tuhan dan menyerahkan dirinyaPradopo, 2005185.Sesuai dengan judulnya puisi inibanyak menggunakan kata pads baris ke-4 Darahku jadibeku. Hal ini merupakan maknakonotasiadalah cerita sescorang yangmelarat, dart sikap yang seharusnyadimiliki oleh sang penyair terhadapnya,serfs bagaimana pandangannya padasang pemintamints Perasaan yang ingindikemukakan oleh san gpenyair da;lampuisi ini adalah rasa bend, jengkel, tidaksimpati, kepada peminta mints Sangpenyair mengecam sikap yang terlalumullah menyerah pads keadaan hidup,kemelaratannya. Puisi ini jugamenyindir tingkah sipeminta-minta yangterlalu melebih-lebihkan masapenderitaannya.httpi/ 'peminta-minta' dapat berartikiasan, yaitu orang yang merninta sangpenyair untuk ingat pads Tuhan, untukmenyembah Tuhan Dia sebab manusiaitu ciptaan clan hamba Tuhan. Seruanpeminta-minta tersebut diterima olehsang penyaur sehingga sang penyairakan menghadap Dia clan menyerahkansegala dosanya Ia sudah sangat sadarakan segalanya dosanya itu sehinggasang penyair jangan selaludiperingatkan saja ditentang. Hal iniakan membuat darah sang pcnyair bekuoleh rasa dosa yang sangat hebat, olehketrakutan akan dikonkretkan dengan citra-citra dan kiasan, sajak yan merupakansaduran puitis dari sajak'Tot den Arme"karya penyair Belanda Willem Elsschotini, dipergunakan juga saranaretorika hiperbola Hiperbola ini penyair mempunyai carauntuk menciptakan efek puitis, yaitu efekyang membangkitkan perasaan, menarikperhatian, dan sebagainya., dimanadengan gaya bahasa sebagai saranaretorikanya. Namun gaya bahasa tidakbersifat sembarang, karena gaya bahasajustru dipergunakan sang penair untukmenyampaikan, secara tidak langsungdan dengan pemadatan, pikiran-pikiranserta pengalaman hidupnya. Oleh karenaitu untuk memahami atau menganalisissuatu karya puisi, selain stilistika, jugadibutuhkan analisis diksi dan Anwar adalah penyairterbesar angkatan 45, yangpopularitasnya ditentukan oleh bahasaciptaannya yang benar-benar baru. Tidakhanya itu , pilihan kata dan gayabahasannya, baik secara individualmaupun konvensional, serta tema dannuansa puisi-puisinya lah yangmenempatkannya menjadi salah satupenyair terbesar di Indonesia.. Semua ituterrefleksikan dengan jelas dalam diksi,persajakan, dan gaya bahasanya dalamkumpulan puisinya Deru Campur Debuyang menggambarkan pergolakan pikirandan batinnya, perjalanan hidupnya, baiksebagai pribadi maupun sebagai wargamasyarakat Indonesia, dari tema tentangcinta pribadi, eksistensi dan nilai hidup,nasionalisme/perjuangan kebangsaanhingga keadaan sosial masyarakatIndonesia pada saat PUSTAKADamono, Sapardi Djoko, 1999. SihirRendra PERMAINAN MAKNAJakarta Pustaka FirdausDjojosuroto, Kinayati, 2006. PengajaranPuisi . Bandung. Jakarta Nuansa EDU-KATA, No. 2, Agustus 2017Keraf, Goris, 2008. Diksi danGayaBahasa. JakartaGramediaPustaka Djoko Rahmat, 2003, BeberapaTeori Sastra, Metode Kritik, danPenerapannya . YogyakartaPustaka Rahmat Djoko, Puisi. Yogyakarta Gajahmada University Nyoman Kutha, 2009, Pustaka PelajarSutejo, 2010. Stilistika. YogyakartaPustaka FelichaWaluyo, Herman J, 2005. Apresiasi Puisi. Jakarta Gramedia Pustaka & Warren, 1995. TeoriKesusasteraan. Jakarta GramediaPustaka Utama. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this PradopoRahmatPradopo, Djoko Rahmat, 2003, Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya . Yogyakarta Pustaka RatnaKuthaRatna, Nyoman Kutha, 2009, Stilistika. Yoyakarta. Pustaka PelajarApresiasi Puisi . Jakarta Gramedia Pustaka UtamaHerman J WaluyoWaluyo, Herman J, 2005. Apresiasi Puisi . Jakarta Gramedia Pustaka Utama. Chairil Anwar merupakan penyair berdarah Minangkabau yang menjadi salah satu pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia. Karya-karyanya tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga dunia. Penasaran seperti apa kumpulan puisi karya Chairil Anwar yang sangat populer dan melegenda itu? Simak artikel ini hingga habis, ya!Para pecinta puisi barangkali sudah tidak asing lagi dengan nama Chairil Anwar. Penyair yang lahir dan besar di Medan ini telah menulis puluhan puisi yang digandrungi banyak orang. Misalnya adalah karya berjudul Aku, Karawang-Bekasi, dan kumpulan puisi Chairil Anwar kumpulan puisi karya Chairil Anwar yang berhasil diterbitkan, yaitu Deru Campur Debu 1949, Aku Ini Binatang Jalang koleksi sajak 1942-1949 1986, Derai-derai Cemara 1998, dan sebagainya. Sedangkan karya-karya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing di antaranya Sharp gravel, Indonesian poems 1960, Chairil Anwar Selected Poems 1963, The Complete Poems of Chairil Anwar 1974, dan masih banyak kepiawaiannya dalam menciptakan puisi, sosok Chairil Anwar mampu menginspirasi banyak orang. Beberapa penulis pun menghasilkan buku yang membahas tentang dirinya, seperti Chairil Anwar memperingati hari 28 April 1949 1953, Chairil Anwar Sebuah Pertemuan 1976, Mengenal Chairil Anwar 1995, dan lain-lain. Luar biasa, bukan?Makin penasaran dengan kumpulan puisi karya Chairil Anwar yang kami rangkum di sini? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini! Semoga saja sajak-sajak dari penyair kenamaan Indonesia itu mampu memberimu banyak inspirasi. Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar tentang Perjuangan 1. Aku Kalau sampai waktuku Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih perih Dan akan lebih tidak peduli Aku mau hidup seribu tahun lagi Mungkin kamu sudah familier dengan salah satu karya dari kumpulan puisi Chairil Anwar berjudul Aku tersebut karena memang sangat terkenal. Sajak yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris itu pertama kali dibaca Chairil pada Juli 1943 di Pusat Kebudayaan Jakarta. Secara keseluruhan, sajak di atas berisi tentang keberanian dalam berjuang walaupun banyak risiko yang menghadang. Dapat pula mengandung makna keteguhan hati atas kebenaran yang telah diyakini. 2. Karawang-Bekasi Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami Terbayang kami maju dan mendegap hati? Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu Kenang, kenanglah kami Kami sudah coba apa yang kami bisa Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa Kami cuma tulang-tulang berserakan Tapi adalah kepunyaanmu Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan, Atau tidak untuk apa-apa Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata Kaulah sekarang yang berkata Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak Kenang, kenanglah kami Teruskan, teruskan jiwa kami Menjaga Bung Karno Menjaga Bung Hatta Menjaga Bung Syahrir Kami sekarang mayat Berikan kami arti Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian Kenang, kenanglah kami Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi Karawang-Bekasi merupakan puisi Chairil Anwar yang mungkin juga tak asing lagi di telingamu. Karya sastra tersebut menyiratkan perjuangan para pahlawan yang telah gugur dalam peperangan yang kemudian dikebumikan di antara Kota Karawang dan Bekasi. Sajak di atas juga menggambarkan betapa beratnya memperjuangkan kemerdekaan yang hendak diproklamirkan Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Meski sudah merdeka, sayangnya banyak dari kita yang mengabaikan perjuangan para pahlawan. Lewat puisi di atas, Chairil berpesan kepada generasi penerus agar senantiasa mengenang dan menghargai jasa pejuang-pejuang yang telah gugur. Baca juga Kumpulan Contoh Pantun Jenaka dan Maknanya untuk Meramaikan Suasana 3. Diponegoro Di masa pembangunan ini Tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati. MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu. Sekali berarti Sudah itu mati. MAJU Bagimu negeri Menyediakan api. Punah di atas menghamba Binasa di atas ditindas Sungguhpun dalam ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai Maju. Serbu. Serang. Terjang. Dalam penulisannya, puisi berjudul Diponegoro tersebut menggunakan persamaan bunyi rima yang dapat dibaca pada bait pertama hingga terakhir. Selain itu, beberapa bagian sajak ini juga menggunakan kalimat konotasi. Misalnya adalah kalimat “Ini barisan tak bergenderang-berpalu,” yang bermakna semangat dan frasa “menyediakan api” sebagai simbol kekuatan dan keberanian. Dari segi makna, sajak ini kurang lebih bercerita tentang perjuangan Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda di Indonesia. Walau senjata yang dipakai kalah modern, sang pahlawan tetap tak gentar dan terus maju memerangi Belanda. 4. Persetujuan dengan Bung Karno Ayo! Bung Karno kasih tangan, mari kita bikin janji Aku sudah cukup lama dengan bicaramu Dipanggang di atas apimu, digarami lautmu Dari mulai tanggal 17 Agustus 1945 Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu Aku sekarang api, Aku sekarang laut Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat Di zatmu, di zatku kapal-kapal kita berlayar Di uratmu, di uratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh Dalam sajak berjudul Persetujuan dengan Bung Karno di atas, Chairil Anwar berusaha menggambarkan kedekatan emosionalnya dengan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Bait pertama mengungkapkan sikap setuju sang penyair terhadap ucapan-ucapan yang disampaikan Bung Karno. Baris selanjutnya juga menunjukkan dukungan Chairil pada Soekarno ketika berusaha mempertahankan Republik Indonesia RI. Sedangkan di bait terakhir, penyair yang mendapat julukan Si Binatang Jalang ini berusaha mengingatkan Soekarno kalau beliau tidak sendirian karena banyak yang sepemahaman dengannya. 5. Prajurit Jaga Malam Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu? Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini Aku suka pada mereka yang berani hidup Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu… Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu! Tema yang diangkat dalam sajak berjudul Prajurit Jaga Malam ini adalah kepahlawanan. Penulis berusaha mengungkapkan kekagumannya kepada para prajurit yang tak lelah melakukan jaga malam untuk mengantisipasi serangan Belanda. Mereka tak gentar sedikit pun pada ancaman penjajah meski nyawa menjadi taruhan. Keberanian dan tekad kuat para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan tersebut mengajarkan kita agar senantiasa cinta tanah air dan rela berkorban untuk negara ini. Baca juga Contoh Puisi tentang Guru sebagai Rasa Terima Kasih Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar tentang Cinta 1. Senja di Pelabuhan Kecil Kepada Sri Ayati Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap Tak hanya menghasilkan karya bertema perjuangan dan kepahlawanan, Chairil Anwar juga menulis kumpulan puisi yang berisi percintaan. Salah satunya sajak berjudul Senja di Pelabuhan Kecil di atas yang berkisah tentang kandasnya sebuah cinta. Tak seperti sajak-sajak sebelumnya yang selalu bernada optimis, rangkaian puisi Chairil kali ini menyiratkan rasa pesimis dan kemuraman. Perasaan sedih sang pengarang terlukiskan lewat pemilihan kata-kata seperti kelam, muram, sendiri, dan sendu. 2. Tak Sepadan Aku kira Beginilah nanti jadinya Kau kawin, beranak dan berbahagia Sedang aku mengembara serupa Ahasveros Dikutuk-sumpahi Eros Aku merangkaki dinding buta Tak satu juga pintu terbuka Jadi baik juga kita padami Unggunan api ini Karena kau tidak kan apa-apa Aku terpanggang tinggal rangka Lewat puisi berjudul Tak Sepadan, sang pengarang seolah sedang mengajak bicara wanita yang dicintainya. Pada bait pertama, si aku mencoba memperkirakan apa yang akan terjadi jika mereka selalu bersama atau sebaliknya. Dengan atau tanpa dirinya, dia kira wanita tersebut akan tetap bahagia dengan suami dan anak-anaknya kelak. Sedangkan bait-bait selanjutnya berisi tentang keputusasaan sang penyair terhadap hubungan yang sedang dijalani. Rasa sakit tak tertahan membuatnya memilih untuk mengakhiri hubungan yang dijalani karena merasa tak sejalan. Dirinya pun berpikir telah disumpahi dan dikutuk Dewa Eros karena kekecewaan dan kemalangan cinta yang menimpanya. Baca juga Kumpulan Puisi Singkat tentang Ibu yang Membuatmu Rindu untuk Pulang 3. Cintaku Jauh di Pulau Cintaku jauh di pulau, gadis manis, sekarang iseng sendiri Perahu melancar, bulan memancar, di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar. angin membantu, laut terang, tapi terasa aku tidak kan sampai padanya. Di air yang tenang, di angin mendayu, di perasaan penghabisan segala melaju Ajal bertakhta, sambil berkata “Tujukan perahu ke pangkuanku saja,” Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh! Perahu yang bersama kan merapuh! Mengapa ajal memanggil dulu Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?! Manisku jauh di pulau, kalau kumati, dia mati iseng sendiri. Sekilas, salah satu karya dari kumpulan puisi Chairil Anwar di atas seolah mengisyaratkan kebahagiaan. Namun tak jauh beda dengan sajak cinta sebelumnya, puisi berjudul Cintaku Jauh di Pulau tersebut ternyata mengisahkan kesedihan karena kasih tak sampai. Cerita bermula dari kecintaan tokoh aku pada gadis di seberang pulau yang senang menghabiskan waktu sendirian. Malangnya, tokoh tersebut harus menjemput ajal ketika hendak menyeberangi pulau untuk bertemu kekasihnya. Setelah meninggal, dia pun masih khawatir dengan sang kekasih yang mungkin akan menghabiskan sisa hidupnya dalam penantian yang sia-sia. 4. Cinta dan Benci Aku tidak pernah mengerti Banyak orang menghembuskan cinta dan benci Dalam satu napas Tapi sekarang aku tahu Bahwa cinta dan benci adalah saudara Yang membodohi kita, memisahkan kita Sekarang aku tahu bahwa Cinta harus siap merasakan sakit Cinta harus siap untuk kehilangan Cinta harus siap untuk terluka Cinta harus siap untuk membenci Karena itu hanya cinta yang sungguh-sungguh mengizinkan kita Untuk mengatur semua emosi dalam perasaan Setiap emosi jatuh… Keluarlah cinta Sekarang aku mengetahui implikasi dari cinta Cinta tidak berasal dari hati Tapi cinta berasal dari jiwa Dari zat dasar manusia Ya, aku senang telah mencintai Karena dengan melakukan itu aku merasa hidup Dan tidak ada orang yang dapat merebutnya dariku Sajak Chairil Anwar ini seolah mengamini perkataan banyak orang yang menyebutkan bahwa cinta dan benci itu beda tipis. Menurutnya, cinta dan benci adalah saudara yang dapat membodohi atau memisahkan sepasang kekasih. Ketika jatuh cinta, sang penyair pun sadar harus siap sakit, kehilangan, terluka, dan membenci. Meski begitu, dia tetap bahagia lantaran bisa mencintai karena itu artinya emosi dan jiwanya benar-benar hidup. 5. Sajak Putih Bersandar pada tari warna pelangi Kau depanku bertudung sutra senja Di hitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda Sepi menyanyi Malam dalam mendoa tiba Meriak muka air kolam jiwa Dan dalam dadaku memerdu jiwa Dan dalam dadaku memerdu lagu Menarik menari seluruh aku Hidup dari hidupku, pintu terbuka Selama matamu bagiku menengadah Selama kau darah mengalir dari luka Antara kita mati datang tidak membelah Pengambilan judul Sajak Putih pada puisi di atas mengisyaratkan kejujuran, keikhlasan, dan ketulusan si aku dalam menyampaikan suara hatinya yang diam-diam mengagumi seseorang gadis. Dia merasakan cinta yang tulus dari sang pujaan hati sehingga membuatnya begitu terharu. Pria tersebut berharap si wanita mencintainya sama seperti apa yang dirasakannya. Namun, baik si laki-laki maupun perempuan belum juga menyatakan perasaannya dan hanya diam tanpa berbicara sepatah kata pun. Dalam diam, mereka juga berjanji akan setia dan tak terpisahkan meski maut datang menjemput. Baca juga Kumpulan Puisi Cinta Romantis untuk Pacar Tersayang yang Memiliki Makna Mendalam Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar untuk Renungan 1. Doa Kepada Pemeluk teguh Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namamu Biar susah sungguh Mengingat Kau penuh seluruh Cahaya-Mu panas suci Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku Aku hilang bentuk remuk Tuhanku Aku mengembara di negeri asing Tuhanku Di pintu-Mu aku bisa mengetuk Aku tidak bisa berpaling Doa merupakan salah satu karya dari kumpulan puisi Chairil Anwar yang mengambil tema ketuhanan. Hal ini dapat dilihat dari pemilihan judul dan beberapa kata, seperti Tuhanku, mengingat Kau, cahaya-Mu, dan pintu-Mu. Sajak tersebut dapat menjadi renungan bahwa keberadaan manusia tak terlepas dari campur tangan Tuhan. Dalam bait-baitnya, sang penyair seolah sedang melakukan dialog dengan Tuhan tentang permasalahan hidup yang dihadapinya. 2. Selamat Tinggal Ini muka penuh luka Siapa punya? Kudengar seru menderu Dalam hatiku Apa hanya angin lalu? Lagi lain pula Menggelepar tengah malam buta Ah..!!! Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal..!!! Selamat tinggal…!! Dalam puisi berjudul Selamat Tinggal, Chairil Anwar seakan-akan sedang membicarakan dirinya sendiri. Dia seperti sedang melakukan introspeksi diri atas kekurangan-kekurangannya yang dikiaskan dengan frasa “muka penuh luka.” Bait-bait tersebut dapat pula dimaknai sebagai sikap keras kepala si penyair terhadap komentar-komentar orang lain yang merugikannya. Oleh karenanya, penulis mengucapkan selamat tinggal pada hal-hal negatif yang menghinggapinya, lalu melangkah dengan percaya diri. Baca juga Kumpulan Kata-Kata Pantun Cinta Romantis untuk Pacar, Gebetan, dan Mantan 3. Sebuah Kamar Sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam mau lebih banyak tahu. “Sudah lima anak bernyawa di sini, Aku salah satunya!” Ibuku tertidur dalam tersendu, Keramaian penjara sepi selalu, Bapakku sendiri terbaring jemu Matanya menatap orang tersalib di batu! Sekeliling dunia bunuh diri! Aku minta adik lagi pada Ibu dan bapakku, karena mereka berada di luar hitungan Kamar begini, 3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa! Sajak yang ditulis Chairil Anwar pada tahun 1946 ini menggambarkan ironi yang terjadi dalam sebuah keluarga. Mereka yang terdiri dari ayah, ibu, dan lima orang anak harus tinggal di sebuah kamar petak berukuran 3×4 meter. Sudah keadaan susah, ditambah si aku ingin menambah kesulitan lagi lantaran meminta adik pada orangtuanya. Padahal untuk ditinggali tujuh orang saja kamar itu sudah terlalu pengap dan sempit. 4. Kepada Peminta-minta Baik, baik, aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku Jangan lagi kau bercerita Sudah tercacar semua di muka Nanah meleleh dari muka Sambil berjalan kau usap juga Bersuara tiap kau melangkah Mengerang tiap kau memandang Menetes dari suasana kau datang Sembarang kau merebah Mengganggu dalam mimpiku Menghempas aku di bumi keras Di bibirku terasa pedas Mengaum di telingaku Baik, baik, aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku Dalam puisinya ini, Chairil Anwar menggambarkan salah satu fenomena sosial yang mungkin kerap terabaikan masyarakat. Lewat Kepada Peminta-minta, penyair berusaha menunjukkan sikapnya terhadap para pengemis. Tokoh aku merasa iba pada si peminta-minta meski sebenarnya dia kurang setuju dengan cara orang itu mencari uang. Di sisi lain, si aku juga kerap berpikir tentang kesulitan hidup yang dihadapi si pengemis dan berharap mereka dapat mencari nafkah dengan cara yang lebih baik. 5. Rumahku Rumahku dari unggun timbun sajak Kaca jernih dari luar segala nampak Kulari dari gedong lebar halaman Aku tersesat tak dapat jalan Kemah kudirikan ketika senja kala Di pagi terbang entah ke mana Rumahku dari unggun timbun sajak Di sini aku berbini dan beranak Rasanya lama lagi Tapi datangnya datang Aku tidak lagi meraih petang Biar berleleran kata manis madu Jika menagih yang satu Sesuai judulnya, sajak Chairil Anwar di atas melukiskan pandangan penulis tentang rumah yang ditinggalinya. Pada bait pertama, penyair beranggapan jika rumahnya bagaikan api unggun yang hangat serta dapat mengusir dinginnya malam. Artinya, rumah itu penuh dengan kehangatan yang membuat si aku betah tinggal di sana. Bait selanjutnya menceritakan tentang pencarian suasana baru di luar rumah tanpa arah dan tujuan. Dapat pula diartikan sebagai masa muda yang kerap kali diisi dengan kesia-siaan. Setelah melewati masa pencarian, si penyair akhirnya kembali ke tempat asal dan menghabiskan masa tuanya di sana. Baca juga Yuk, Baca Kumpulan Puisi Roman Picisan yang Bikin Baper di Sini! Manakah Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar yang Paling Menginspirasimu? Setelah membaca kumpulan puisi karya Chairil Anwar di atas, apa yang kamu pikirkan? Kira-kira, manakah sajak yang paling menginspirasi serta meninggalkan kesan terdalam di hatimu? Kamu bisa mencatatnya, lalu mengirimkannya pada orang-orang terdekat atau membaginya di media sosial. Tak hanya karya Chairil Anwar, di sini kamu juga dapat membaca kumpulan puisi lainnya dengan tema yang beragam. Misalnya adalah puisi tentang ibu, guru, cinta romantis, dan sebagainya. Selamat membaca! PenulisIis ErnawatiIis Ernawati adalah kontributor di Praktis Media alumni UIN Sunan Kalijaga jurusan Komunikasi. EditorNurul ApriliantiMeski memiliki latar belakang pendidikan Sarjana Pertanian dari Institut Pertanian Bogor, wanita ini tak ragu "nyemplung" di dunia tulis-menulis. Sebelum berkarier sebagai Editor dan Content Writer di Praktis Media, ia pun pernah mengenyam pengalaman di berbagai penjuru dunia maya. Data buku kumpulan puisi Judul Deru Campur Debu Penulis Chairil Anwar Cetakan III, 1993 Penerbit PT. Dian Rakyat, Jakarta Tebal 47 halaman 28 puisi ISBN 979-523-042-5 Ilustrasi isi Oesman Effendi Beberapa pilihan puisi Chairil Anwar dalam Deru Campur Debu Aku Kalau sampai waktuku Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan akan akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi Senja di Pelabuhan Kecil Buat Sri Ayati Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap. Cintaku Jauh di Pulau Cintaku jauh di pulau Gadis manis, sekarang iseng sendiri Perahu melancar, bulan memancar di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar angin membantu, laut terang, tapi terasa aku tidak kan sampai padanya Di air yang tenang, di angin mendayu di perasaan penghabisan segala melaju Ajal bertakhta, sambil berkata “Tujukan perahu ke pangkuanku saja.” Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh! Perahu yang bersama kan merapuh Mengapa Ajal memanggil dulu Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?! Manisku jauh di pulau, kalau ku mati, dia mati iseng sendiri. Kawanku dan Aku Kami sama pejalan larut Menembus kabut Hujan mengucur badan Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat Siapa berkata-kata? Kawanku hanya rangka saja Karena dera mengelucak tenaga Dia bertanya jam berapa? Sudah larut sekali Hilang tenggelam segala makna Dan gerak tak punya arti Kepada Kawan Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat, mencengkam dari belakang tika kita tidak melihat, selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa, belum bertugas kecewa dan gentar belum ada, tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam, layar merah berkibar hilang dalam kelam, kawan, mari kita putuskan kini di sini Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri! Jadi Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan, Tembus jelajah dunia ini dan balikkan Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu, Pilih kuda yang paling liar, pacu laju, Jangan tambatkan pada siang dan malam Dan Hancurkan lagi apa yang kau perbuat, Hilang sonder pusaka, sonder kerabat. Tidak minta ampun atas segala dosa, Tidak memberi pamit pada siapa saja! Jadi mari kita putuskan sekali lagi Ajal yang menarik kita, kan merasa angkasa sepi, Sekali lagi kawan, sebaris lagi Tikamkan pedangmu hingga ke hulu Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!! Doa kepada pemeluk teguh Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namaMu Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh cayaMu panas suci tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku aku hilang bentuk remuk Tuhanku aku mengembara di negeri asing Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling Kepada Peminta-minta Baik, baik, aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku Jangan lagi kau bercerita Sudah tercacar semua di muka Nanah meleleh dari muka Sambil berjalan kau usap juga Bersuara tiap kau melangkah Mengerang tiap kau memandang Menetes dari suasana kau datang Sembarang kau merebah Mengganggu dalam mimpiku Menghempas aku di bumi keras Di bibirku terasa pedas Mengaum di telingaku Baik, baik, aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku Cerita Buat Dien Tamaela Beta Pattirajawane Yang dijaga datu-datu Cuma satu Beta Pattirajawane Kikisan laut Berdarah laut Beta Pattirajawane Ketika lahir dibawakan Datu dayung sampan Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala Beta api di pantai. Siapa mendekat Tiga kali menyebut beta punya nama Dalam sunyi malam ganggang menari Menurut beta punya tifa, Pohon pala, badan perawan jadi Hidup sampai pagi tiba. Mari menari! mari beria! mari berlupa! Awas jangan bikin beta marah Beta bikin pala mati, gadis kaku Beta kirim datu-datu! Beta ada di malam, ada di siang Irama ganggang dan api membakar pulau... Beta Pattirajawane Yang dijaga datu-datu Cuma satu Sebuah Kamar Sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam mau lebih banyak tahu. “Sudah lima anak bernyawa di sini, Aku salah satu!” Ibuku tertidur dalam tersedu, Keramaian penjara sepi selalu, Bapakku sendiri terbaring jemu Matanya menatap orang tersalib di batu! Sekeliling dunia bunuh diri! Aku minta adik lagi pada Ibu dan bapakku, karena mereka berada d luar hitungan Kamar begini 3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa! Hampa Kepada Sri Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak Lurus kaku pohonan. Tak bergerak Sampai di puncak. Sepi memagut, Tak satu kuasa melepas-renggut Segala menanti. Menanti. Menanti Sepi Tambah ini menanti jadi mencekik Memberat-mencengkung punda Sampai binasa segala. Belum apa-apa Udara bertuba. Setan bertempik Ini sepi terus ada. Dan menanti. Tentang Chairil Anwar Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Berpendidikan MULO tidak tamat. Pernah menjadi redaktur “Gelanggang” ruang kebudayaan Siasat, 1948-1949 dan redaktur Gema Suasana 1949. Kumpulan sajaknya, Deru Campur Debu 1949, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan yang Putus 1949, dan Tiga Menguak Takdir bersama Rivai Apin dan Asrul Sani, 1950. Chairil Anwar dianggap pelopor angkatan 45. Ia meninggal di Jakarta, 28 April 1949. Hari kematiannya diperingati sebagai Hari Sastra di Indonesia. Catatan Lain Buku ini koleksi perpustarda Prov. Kalsel. Pinjam 2 April 2012 dan mesti dibalikin 18 April 2012. Sketsa / lukisan Chairil Anwar ArticlePDF AvailableAbstractPenelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang bentuk citraan dan majas dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik analisis isi. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan teknik analisis data dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan/verifikasi. Data dalam penelitian ini berupa citraan dan majas dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar . Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar terdapat beragam citraan dan majas yang cukup bervariasi. Citraan yang digunakan pengarang dapat menciptakan imajinasi yang lebih hidup. Citraan yang terdapat pada kumpulan puisi tersebut yaitu citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan gerak, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan pengecapan serta majas ada personifikasi,metafora,hiperbola dan alegori. Adapun puisi yang dianalisis antara lain “Kawan ku dan Aku”, “Sajak Putih”, dan “Nocturno”. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. Jurnal Suluh Pendidikan JSP, Vol 10, No 2, September 2022 P ISSN 23562596 E-ISSN 27147037 41 ANALISIS MAJAS DAN CITRAAN PADA KUMPULAN PUISI DERU CAMPUR DEBU Mega Rebeca Gita, Achmad Yuhdi Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan e-mail gitapanjaitan08 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang bentuk citraan dan majas dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik analisis isi. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan teknik analisis data dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan/verifikasi. Data dalam penelitian ini berupa citraan dan majas dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar . Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar terdapat beragam citraan dan majas yang cukup bervariasi. Citraan yang digunakan pengarang dapat menciptakan imajinasi yang lebih hidup. Citraan yang terdapat pada kumpulan puisi tersebut yaitu citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan gerak, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan pengecapan serta majas ada personifikasi,metafora,hiperbola dan alegori. Adapun puisi yang dianalisis antara lain “Kawan ku dan Aku”, “Sajak Putih”, dan “Nocturno”. Katakunci Majas, Citraan, Puisi Abstract This study aims to provide an understanding of the form of imagery and figure of speech in the collection of poetry Deru Campur Debu by Chairil Anwar. This study uses a descriptive method with content analysis techniques. The data collection technique uses documentation and data analysis techniques with the following steps data reduction, data presentation and drawing conclusions/verification. The data in this study are images and figures of speech in the collection of poetry Deru Campur Debu by Chairil Anwar. The results of the research show that in the collection of poetry Deru Campur Debu by Chairil Anwar there are various images and figures of speech that are quite varied. The imagery used by the author can create a more vivid imagination. The images contained in the poetry collection are visual imagery, auditory imagery, motion imagery, tactile imagery, olfactory imagery, tasting imagery and figure of speech with personification, metaphor, hyperbole and allegory. The poems analyzed included “My friends and I”, “White Poems”, and “Nocturno”. Keywords Figure of Speech, Imagery, Poetry PENDAHULUANKarya sastra tercipta karena adanya inisiatif pengarang dalam menciptakan karya dalam bentuk ide dan gagasan yang kreatif. Ide dan gagasan kreatif tersebut tercipta bukan hanya dari imajinatif pengarang tetapi juga pengetahuan yang dimiliki pengarang. Pengarang menciptakan karya sastra dari media bahasa yang diambil dari gambaran-gambaran hidup manusia, baik itu pengalaman pengarang sendiri maupun pengalaman orang lain. Dengan demikian karya sastra yaitu karya yang tercipta dari ide kreatif pengarang yang menggambarkan tentang kehidupan dengan menggunakan media bahasa. Satu di antara bentuk karya sastra adalah puisi. Puisi termasuk karya sastra yang memiliki nilai keindahan yang dihasilkan dari ide kreatif pengarang. Pada penelitian ini, peneliti mengambil objek buku Jurnal Suluh Pendidikan JSP, Vol 10, No 2, September 2022 P ISSN 23562596 E-ISSN 27147037 42 kumpulan puisi berjudul “Deru Campur Debu” yang telah dipublikasikan dalam buku antologi yang dibuat oleh Dian Rakyat. Berdasarkan paparan diatas, peneliti memberi judul penelitian ini, yaitu “Analisis Majas dan Citraan Pada Kumpulan Puisi Deru Campur Debu ” Permasalahan citraan pada hakikatnya tidak bisa terlepas dari permasalahan pemilihan kata diksi. Dengan adanya diksi atau pilihan kata yang tepat tentu akan menimbulkan daya khayal pembaca terhadap suatu hal yang sedang dibacanya. Namun sebaliknya, penggunaan diksi yang tidak tepat tidak akan dapat membuat pembaca berimajinas seoah-olah merasakan apa yang dirasakan penyair, karena pada umumnya citraan dalam puisi digunakan penyair untuk memperkuat gambaran pemikiran pembaca, Citraan terdiri atas tujuh jenis yakni citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan gerak, citraan pengecapan. dan citraan pemikiran. Maman S. Mahayana 2005 sastra sering juga ditempatkan sebagai potret sosial. Ia mengungkapkan kondisi masyarakat pada masa tertentu. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial Damono, 1979 1. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat; antara masyarakat dengan orang-seorang, antara manusia, dan antara peristiwa yang terjadi dalam batin seseoranTujuan penelitian dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan majas dan citraan yang terdapat dalam buku kumpulan puisi deru campur debu karya Chairil Anwar. Sering sekali kita hanya membaca sebuah puisi untuk melatih bagaimana cara pembacaannya yang baik dan benar namun tidak mengetahui terlebih dahulu makna puisi tersebut dan citraan yang terkandung didalam. Tanpa disadari ketika tahu makna dari puisi dan citraannya kita akan menjadi lebih baik dalam pembacaannya karena sudah tahu artinya, Oleh karena peneliti membuat sebuah penelitian dari kumpulan puisi Chairil Anwar karena diksi yang terdapat dalam puisi-puisinya sangat jarang didengar orang awam pada umumnya sehingga saya berinisiatif untuk menganalisisnya agar pembaca juga memahami majas dan citraan dalam puisi-puisi karya Chairil Anwar. Nurgiyantoro 2005346 mengungkapkan bahwa penggunaan citraan dalam puisi danteks kesusastraan secara umum berkaitan dengan tujuan memberikan gambaran secara konkret, walau tetap hanya secara imajinatif kepada pembacanya. Teori yang dibuat oleh Nurgiyantoro inilah yang saya terapkan didalam penelitian ini karena pada umumnya puisi dengan kata-kata yang jarang terdengar membarika gambara konkret sehingga saya menganalisis majas dan citraan yang terkandung didalam puisi. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sugiyono 2013, hlm. 15 Sehingga di penelitian ini peneliti menganalisis secara langsung dari buku kumpulan puisi Chairil Anwar berjudul “Chairil Anwar”. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik studi pustaka, yaitu menggunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data. Sumber-sumber tertulis yang dimaksud dapat berupa sumber buku dan majalah ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam penganalisisan data penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Membaca puisi yang akan dianalisis yaitu berjudul “Kawanku dan Aku”, “Sajak Putih” dan “Nocturno”. 2. Mengidentifikasi larik puisi yang diduga terdapat majas dan unsur citraan Jurnal Suluh Pendidikan JSP, Vol 10, No 2, September 2022 P ISSN 23562596 E-ISSN 27147037 43 3. Mencatat setiap larik puisi yang mengandung konsep majas dan kajian citraan 4. Menentukan jenis majas dan unsur citraan pada larik-larik puisi yang telah diidentifikasi 5. Mengklasifikasi majas dan citraan yang terdapat dalam puisi yang telah dipublikasikan dalam kumpulan puisi berjudul “Deru Campur Debu” 6. Menganalisis majas dan citraan yang terdapat dalam puisi yang telah dipublikasikan dalam kumpulan puisi berjudul “Deru Campur Debu” 7. Menarik kesimpulan. PEMBAHASAN DAN HASIL 1. Kawanku dan Aku Kami sama pejalan larut Menembus kabut Hujan mengucur badan Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan Darahku mengentat pekat Aku tumpat pedat Siapa berkata-kata.....? Kawanku hanya rangka saja Karma dera mengelucak tenaga Dia bertanya jam berapa? Sudah larut sekali Hilang tenggelam segala makna Dan gerak tak punya arti Tabel 1 Analisis pada puisi Kawanku dan Aku a. Majas Kata-kata bermajas yang terdapat dalam puisi ini yaitu pada kutipan “ Kami sama pejalan larut Menembus kabut Hujan mengucur badan Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan” Penggalan larik puisi tersebut mengandung majas hiperbola yang berarti 2 orang sahabat yang sama-sama berjuang hingga larut malam untuk belajar hingga keringat bercucuran pun mereka tempuh walaupun terkadang ide-ide tidak selalu lancar. Kutipan larik lainnya dalam puisi ini yang mengandung majas ialah “Darahku mengentat pekat Aku tumpat pedat” Makna yang terkandung dalam larik tersebut ialah usaha yang sungguh-sungguh dalam pencapaian pembelajaran. b. Citraan - citraan pendengaran Siapa berkata-kata.....? - citraan perabaan  Dan gerak tak punya arti - citraan gerak  Darahku mengentat pekat, Aku tumpat pedat - citraan pengecapan  Kawanku hanya rangka saja karma dera mengelucak tenaga - citraan pemikiran  Dia bertanya jam berapa? Sudah larut sekali Hilang tenggelam segala makna 2. Sajak Putih Bersandar pada tari warna pelangi Kau depanku bertudung sutra senja Dihitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda Sepi menyanyi. Malam dalam mendoa tiba Meriak muka air kolam jiwa Dan dalam dadaku memerdu lagu Menarik menari seluruh aku Hidup dari hidupku, pintu terbuka Selama matamu bagiku menengadah Selama kau darah mangalir dari luka Antara kita mati datang tidak membelah ........ Tabel 2 Analisis pada puisi Sajak Putih Jurnal Suluh Pendidikan JSP, Vol 10, No 2, September 2022 P ISSN 23562596 E-ISSN 27147037 44 a. Majas Pada puisi Chairi Anwar berjudul “Sajak Putih” terdapat beberapa kalimat bermajas antara lain - Tari warna pelangi Merupakan majas metafora artinya, banyak macam hal-hal yang datang dalam kehidupan. - Bertudung sutra senja  Merupakan majas personifikasi artinya, wanita menggunakan jilbab berwarna lembut atau gelap. - Dihitam matamu kembang mawar dan melati Merupakan majas alegori artinya, dalam bolamata yang berbinar indah. - Dalam dadaku memerdu lagu  Merupakan majas personifikasi artinya, didalam batin menyanyikan sebuah lagu. - Menarik menari seluruh aku  Merupakan majas metafora artinya, meyakinkan diri akan suatu hal. b. Citraan - citraan pendengaran Dan dalam dadaku memerdu lagu - citraan perabaan  Menarik menari seluruh aku. - citraan gerak  Menarik menari seluruh aku - citraan pemikiran  Selama kau darah mangalir dari luka, Antara kita mati datang tidak membelah - citraan penglihatan  Selama matamu bagiku menengadah 3. Nocturno Aku menyeru tapi tidak satu suara Membalas,hanya mati dibeku udara Dalam hatiku terbujur keinginan Juga tidak bernyawa Mimpi yang penghabisan minta tenaga Patah kapak,sia-sia berdaya Dalam cekikan hati ku Terdampar…….. Menginyam abu dan debu Dari tinggalannya suatu lagu Ingatan pada ajal yang menghantu Dan demam yang nanti membikin kaku….. Pena dan penyair keduanya mati, Berpalingan! Tabel 3 Analisis pada puisi Nocturno a. Majas Pada puisi Chairi Anwar berjudul “Nocturno” terdapat beberapa kalimat bermajas antara lain - Hanya mati dibeku udara  Merupakan majas personifikasi artinya, apa yang dikatakan tidak didengar orang lain. - Patah kapak, sia-sia berdaya,Dalam cekikan hatiku Merupakan majas hiperbola artinya, bertahan pada perasaan yang sakit hanya perbuatan yang sia-sia. - Menginyam abu dan debu Merupakan majas metafora artinya, bertahan lama tanpa hasil yang pasti. b. Citraan - Citraan pendengaran Tapi tidak suatu suara membalas - Citraan perabaanMimpi yang penghabisan tenaga minta tenaga - Citraan gerak Terdampar…. - Citraan pemikiran Ingatan pada ajal yang menghantu - Citraan penglihatan Pena dan penyair keduanya mati Jurnal Suluh Pendidikan JSP, Vol 10, No 2, September 2022 P ISSN 23562596 E-ISSN 27147037 45 - Citraan pengecapan Menginyam abu dan debu Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang dapat dikaji dari berbagai aspek, diantaranya dari struktur dan unsur yang membangun puisi, serta dari tinjauan kesejarahannya. Menurut Dale & Warriner dalam Pradopo,1985 104 bahwa majas merupakan bahasa yang dipergunakan yaitu bahasa kiasan untuk meningkatkan dan memperbanyak efek melalui cara memperbandingkan dan memperkenalkan suatu benda dengan yang lain atau hal yang lebih umum. Hal ini dikarenakan , pengunaan pendek kata majas sehingga merubah nilai rasa atau menimbulkan konotasi tertentu. Adapun menurut Keraf 1988 bahwa majas yaitu bagaimana cara seseorang mengungkapkan pikirannya lewat bahas yang dimilikinya secara khas sehingga dapat diperlihatkan melalui kepribadian dan jiwa pengarang pemakaian bahas. . “Citraan merupakan kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan khayalan atau imajinasi” Kosasih, 2008 33. Artinya, imajinasi yang dimiliki pembaca seolah-olah dapat merangsang pemikirannya sehingga pembaca dapat merasakan, mendengar, atau melihat sesuatu yang diungkapkan oleh penyair. Citraan atau pengimajian merupakan susunan kata berdasarkan apa yang dilihat, didengar, maupun dirasakan penyair dengan menggunakan pancaindra. Permasalahan citraan pada hakikatnya tidak bisa terlepas dari permasalahan pemilihan kata diksi. Dalam buku kumpulan puisi berjudul “Deru Campur Debu” karya Chairil Anwar dari tiga puisi yang saya analisis memiliki berbagai macam majas dan citraan yang terkandung didalamnya. Dari teori Nurgiyantoro sebelumnya yang menyatakan bahwa puisi memiliki makna yang konkret itu benar apalagi setelah kita mengetahui majas dan citraan yang terkandung, tentu akan lebih mudah dalam pemahaman dan pembacaannya. Analisis Majas dan Citraan Pada Kumpulan Puisi Deru Campur Debu berjudul “Kawanku dan Aku, Sajak Putih dan Nocturno”. SIMPULAN Karya sastra tercipta karena adanya inisiatif pengarang dalam menciptakan karya dalam bentuk ide dan gagasan yang kreatif. Dari penelitian ini peneliti dapat menyimpulkan bahwa didalam ketiga puisi didalam buku kumpulan puisi Deru Campur Debu tersebut mengandung berbagai macam majas yaitu majas personifikasi, metafora, hiperbola, alegori dan mengandung berbagai macam citraan yaitu Citraan pendengaran, perabaan, gerak, pengecapan, pemikiran, dan penglihatan. Permasalahan citraan pada hakikatnya tidak bisa terlepas dari permasalahan pemilihan kata diksi. Dengan adanya diksi atau pilihan kata yang tepat tentu akan menimbulkan daya khayal pembaca terhadap suatu hal yang sedang dibacanya. Namun sebaliknya, penggunaan diksi yang tidak tepat tidak akan dapat membuat pembaca berimajinas seoah-olah merasakan apa yang dirasakan penyair, karena pada umumnya citraan dalam puisi digunakan penyair untuk memperkuat gambaran pemikiran pembaca. Selain menganalisis majas dan citraan bias dilakukan penelitian baru mengenai analisis makna leksikal dalam puisi. DAFTAR PUSTAKA Agan, S., Pd, M., Sempu, D., Sasongko, D., Pd, M., Studi, P., Bahasa, P., & Sastra, D. A. N. 2017. Kajian Struktur Fisik pada Kumpulan Puisi Melihat Api Bekerja Karya M Aan Mansyur An Analysis of Poetry Entitled Seeing Fire Works by M Aan Mansyur Oleh Ley Faunani Susilo Dibimbing oleh SURAT PERNYATAAN ARTIKEL SKRIPSI TAHUN 2017. 0101. Ahsin, dkk. 2017. Struktur batin puisi Jumari HS dalam antologi puisi tentang jejak yang hilang. Jurnal Jurnal Suluh Pendidikan JSP, Vol 10, No 2, September 2022 P ISSN 23562596 E-ISSN 27147037 46 Pendidikan Bahasa Indonesia, 5 2, [online]. Diakses dari pbs Alby, H. M., & Keguruan, F. 2021. Analisis Struktur dan Nilai Sosial dalam Antologi PuisiMenjadi Dongeng Karya Mukti Sutarman Espe Structure and Social Analysis in MuktiSutarman Espe ’ s Antology of Poetry Menjadi Dongeng. 74– Ardiansyah, N., Sabri, Y., Sudrajat, R. T., Muslim, F., & Aprian, R. S. 2018. Analisis nilai religius dalam film negeri 5 menara yang diadaptasi dari novel Ahmad Fuadi. Parole Damono, Sapardi Djoko. 2017. Ayatayat Api. Jakarta PT Gramedia Pustaka Utama. Dibia, I. K. 2018. Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Depok PT. Raja Grafindo Persada. Espe, 2019. Kumpulan Puisi Menjadi Dongeng Karya Mukti Sutarman Espe. Buku Kumpulan Puisi Mukti Sutarman Espe Fadhilatun, H. 2017. Analisis Diksi dan Citraan dalam Kumpulan Puisi Anak Majalah BoboTahun 2016. Jurnal Kelasa, 122, 213–226. F, Y. A. 2018. Structur And Stereotype In Short Story “Selamat Pagi, Tuan Menteri” Karya Radhar Panca Dahana. JLER Journal of Language Education Research, 1, 1. Humaira, M. A. 2018. KARYA SONI FARID MAULANA. 2. Juwati. 2017. Diksi dan gaya bahasa puisipuisi kontemporer karya Sutardji Calzoum Bachri sebuah kajian stilistik. Jurnal Kajian Bahasa, Sastra dan Pengajaran KIBASP, 11. Kadarshi, Sri. 2017. Penggunaan Gaya Bahasa Dalam Kumpulan Puisi Ballada OrangOrang Tercinta Karya Rendra. Skripsi Tidak Diterbitkan. Palu Universitas Tadulako Maryatin, M. 2018. Penggunaan Gaya Bahasa Personifikasi dalam Kumpulan Puisi Karya Mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Balikpapan. Stilistika Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra M. Aris, M. A., Zahar, E., & Sujoko, S. 2019. Citraan Dalam Kumpulan Puisi Ayat-Ayat Api Karya Sapardi Djoko Damono. Aksara Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 31, 56. Marsela, N. R., Sumiharti, S., & Wahyuni, U. 2018. Analisis Citraan Dalam Antologi Puisi Rumah Cinta Karya Penyair Jambi. Aksara Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 22, 57. Nuraeni, P. 2019. Peningkatan Kemampuan Siswa dalam Menulis Kreatif Puisi dengan Media Rahayu, I. S. 2021. Analisis Kajian Semiotika dalam Puisi Chairil Anwar Menggunakan Teori Charles Sanders Peirce. Jurnal Semiotika, 151, 30–36. Setia, Budi, Prihadi., Firmansyah, Dida. 2019. Analisis Semiotika Pada Puisi “Barangkali Karena Bulan” Karya WS. Rendra. Parole Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 2 2, 269-271 Suciati, M., Mulyono, T., & Khotimah, K. 2020. Citraan Dalam Kumpulan Puisi Dongeng-Dongeng Yang Tak Utuh Karya Boy Candra Dan Implikasinya. Jurnal Skripta, 62. Jurnal Suluh Pendidikan JSP, Vol 10, No 2, September 2022 P ISSN 23562596 E-ISSN 27147037 47 Yuhdi. 2022. Bahan Ajar Penulisan Akademik. Medan Universitas Negeri Medan Janie Gracella DauJulius Sandino KelyEva Dwi KurniawanPenelitian ini membahas tentang penggunaan gaya bahasa atau majas dalam puisi karya Rendra yang berjudul “Aku Tulis Pamplet Ini”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Analisis data dilakukan dengan membaca keseluruhan puisi, mencatat larik puisi yang menggunakan majas, kemudian menarik kesimpulan dari hasil analisis terhadap data yang ada. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa puisi “Aku Tulis Pamplet Ini” menggunakan majas personifikasi, simile, alegori, antitesis, retorik, repetisi, dan eksklamasio di Citraan Dalam Antologi Puisi Rumah Cinta Karya Penyair Jambi. Aksara Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Dan Sastra IndonesiaN R MarselaS SumihartiU WahyuniMarsela, N. R., Sumiharti, S., & Wahyuni, U. 2018. Analisis Citraan Dalam Antologi Puisi Rumah Cinta Karya Penyair Jambi. Aksara Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 22, 57. 3 Nuraeni, P. 2019. Peningkatan Kemampuan Siswa dalam Menulis Kreatif Puisi dengan Media Rahayu, I. S. 2021. Analisis Kajian Semiotika dalam Puisi Chairil Anwar Menggunakan Teori Charles Sanders Peirce. Jurnal Semiotika, 151, Semiotika Pada PuisiSetiaPrihadi BudiDida FirmansyahSetia, Budi, Prihadi., Firmansyah, Dida. 2019. Analisis Semiotika Pada Puisi "Barangkali Karena Bulan" Karya WS. Rendra. Parole Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 2 2, 269-271

makna puisi deru campur debu